Tuesday, April 26, 2016

Pengaruh Budaya Nusantara Terhadap Sastra

Pengaruh Budaya Nusantara Terhadap Sastra

Oleh: Santi T.

Budaya dan Bahasa
Ketika berbicara mengenai budaya, kita harus mau membuka pikiran untuk menerima banyak hal baru. Budaya bersifat kompleks, luas, dan abstrak. Budaya tidak terbatas pada seni yang sering kali dilihat dalam gedung kesenian atau tempat bersejarah, seperti museum. Tetapi, budaya merupakan suatu pola hidup menyeluruh. Budaya memunyai banyak aspek yang turut menentukan perilaku komunikatif. Beberapa orang bisa mengalami kesulitan ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya lain. Hal ini dikarenakan budaya memunyai keistimewaannya sendiri. Budaya masyarakat satu berbeda dengan budaya masyarakat yang lainnya, sehingga seseorang harus bisa menyesuaikan perbedaan-perbedaannya. Kebudayaan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak.
Ada banyak unsur yang membentuk budaya, termasuk bahasa, adat istiadat, sistem agama dan politik, perkakas, pakaian, dan karya seni. Bahasa merupakan perwujudan budaya yang digunakan manusia untuk saling berkomunikasi, baik melalui tulisan, lisan, ataupun gerakan. Sebagai perwujudan budaya, bahasa dapat berperan dalam dua hal:
  1. Sebagai alat untuk berekspresi, berkomunikasi, mengadakan integrasi, dan adaptasi sosial.
  2. Sebagai alat untuk mengadakan hubungan dalam pergaulan sehari-hari, mewujudkan seni (sastra), mempelajari naskah-naskah kuno, dan mengeksploitasi ilmu pengetahuan dan teknologi.
Pengaruh Budaya Terhadap Sastra
Bahasa tidak hanya memunyai hubungan dengan budaya, tetapi juga sastra. Bahasa memunyai peranan yang penting dalam sastra karena bahasa punya andil besar dalam mewujudkan ide/keinginan penulisnya. Banyak hal yang bisa tertuang dalam sebuah sastra, baik itu puisi, novel, roman, bahkan drama. Setiap penulis karya sastra hidup dalam zaman yang berbeda, dan perbedaan zaman inilah yang turut ambil bagian dalam menentukan warna karya sastra mereka. Oleh karena itu, ada beberapa periode dalam penulisan karya sastra, seperti Balai Pustaka, Pujangga Baru, Angkatan 45, Angkatan 66, dan sebagainya. Setiap periode "mengangkat" latar belakang yang berbeda-beda sesuai zaman dan budaya saat itu.
Sebagai contoh, kesusastraan Indonesia. Kesusastraan Indonesia menjadi potret sosial budaya masyarakat Indonesia. Tidak jarang, kesusastraan Indonesia mencerminkan perjalanan sejarah Indonesia, "kegelisahan" kultural, dan manifestasi pemikiran Bangsa Indonesia. Misalnya, kesusatraan zaman Balai Pustaka (1920 -- 1933). Karya-karya sastra pada zaman itu menunjukkan problem kultural ketika Bangsa Indonesia dihadapkan pada budaya Barat. Karya sastra tersebut memunculkan tokoh-tokoh (fiksi) yang mewakili golongan tua (tradisional) dan golongan muda (modern). Selain itu, ada budaya "lama", seperti masalah adat perkawinan dan kedudukan perempuan yang mendominasi novel Indonesia pada zaman Balai Pustaka. Sekarang ini, novel Indonesia cenderung menyajikan konflik cinta, sains, kekeluargaan, dll..
Bagaimana pendapat Anda mengenai puisi zaman sekarang? Tentu saja ada perbedaan yang sangat kentara, baik dalam topik yang "diangkat" maupun bahasa yang digunakan. Sebagai contoh, kumpulan puisi Mbeling karya Remy Sylado, tahun 2005. Sebagian besar puisi Mbeling yang ia tulis mengangkat kehidupan politik pada saat itu, seperti korupsi, koruptor, individualisme, dll.. Secara penulisan, beberapa puisi karya Remy Sylado hanya terdiri 1 -- 2 kata saja dan disusun dengan tipografi yang unik. Misal, puisi berjudul "Individualisme dalam Kolektivisme". Puisi ini hanya terdiri dari kata "kita" dan "aku". Kedua kata ini disusun dengan pola membentuk persegi panjang, dengan kata "AKU" (kapital) pada titik diagonalnya. Jika dibandingkan dengan puisi pada zaman Muhammad Yamin, tentu mengalami perbedaan. Meskipun mengangkat tema yang sama, misalnya politik, tetapi konten penyajian puisi sangatlah berbeda. Puisi Muhammad Yamin lebih mengangkat sisi perumusan konsep kebangsaan, meskipun saat itu masih dalam lingkup Sumatera. Jelas sangat berbeda dengan puisi Remy Sylado, yang lebih condong menyajikan sisi kehidupan politik sebuah bangsa berkembang dengan kondisi pemerintahan yang kurang baik.
Perbedaan karya sastra setiap periode bukanlah semata-mata karena ide/gagasan dari penulisnya. Perbedaan ini dipengaruhi oleh kondisi sosial, politik, dan budaya yang terjadi pada saat itu. Bahkan, jika kita mau merunut karya sastra dari awal sampai sekarang, dan meneliti lebih dalam mengenai latar belakang ideologi saat itu, kita bisa mendapati bagaimana proses perjalanan Bangsa Indonesia. Meskipun karya sastra di Indonesia bisa dibilang hampir pada posisi "tengah" -- tidak terlalu menonjol dan tidak terpuruk, namun perlu disadari bahwa budaya barat sedikit demi sedikit, dari waktu ke waktu, turut memengaruhi karya sastra Indonesia.
Pernahkah Anda mendengar karya sastra Indonesia modern? Gaya sastra asing (barat) dan pengaruh bentuk menjadi patokan untuk menyebut sastra Indonesia yang modern. Pada kenyataannya, ketika pengarang hidup dalam budayanya, ia mencoba untuk menerima tradisi estetis (gaya barat) dengan budayanya. Penerimaan tradisi estetis tersebut dituangkan dalam karyanya, dijadikan latar/setting pada tulisannya, sekadar memberi warna dalam proses kreatif yang ia lakukan. Akibatnya, sastra lama hanya akan menjadi sebuah artefak. Para peneliti sastra pun menjadi asing dengan tradisi yang dimiliki oleh sejarah panjang sastra di Indonesia, melalui karya-karya sastra yang ada.
Budaya dan sastra memunyai ketergantungan satu sama lain. Sastra sangat dipengaruhi oleh budaya, sehingga segala hal yang terdapat dalam kebudayaan akan tercermin di dalam sastra. Masinambouw mengatakan bahwa sastra (bahasa) dan kebudayaan merupakan dua sistem yang melekat pada manusia. Jika kebudayaan adalah sistem yang mengatur interaksi manusia di dalam masyarakat, bahasa (sastra) adalah suatu sistem yang berfungsi sebagai sarana berlangsungnya suatu interaksi.

Sumber bacaan:
  1. Muhyidin, Asep, M.Pd.. "Artikel-Artikel Tentang Sastra Indonesia". Dalamhttp://sihombing92.blogspot.com/2012/05/artikel-sastra-indonesia.html
  2. Sihombing, Bobby. "Artikel Sastra Indonesia". Dalam http://sihombing92.blogspot.com/2012/05/artikel-sastra-indonesia.html
  3. ________________. "Hubungan Budaya dan Sastra". Dalamhttp://nindy91.wordpress.com/2010/10/28/hubungan-budaya-dan-sastra/

terima kasih telah mengunjungi blog kami, jangan lupa tinggalkan komentar.....

Monday, April 25, 2016

Takdir Cintaku – oleh Yanti Prawatie

Takdir Cintaku – oleh Yanti Prawatie


Kuikuti sudah langkah cinta ini
Menelusuri lorong kelam tak bertepi
Jiwa merana
Hati terluka
Raga tersiksa
Mana kala cinta dusta yang kutrima.
Mengapa..?
Murni cintaku
Hangat kasih sayangku
Ternoda dengan titik hitam tabir kepalsuan.
Berjalan melewati poros waktu
Ku terus menapaki Takdir Cintaku
(Akankah ada secercah sinar dibalik pekat nya kegelapan).
Takdir Cintaku – oleh Yanti Prawatie
Pontianak Kalbar
terima kasih telah mengunjungi blog kami,jangan lupa tinggalkan komentarnya...

Sunday, April 24, 2016

tokoh-tokoh utusan allah yang di anggap sebagai dewa dalam agama hindu

Sejak dahulu kala nabi, rosul dan khalifah Allah telah diajarkan ilmu2 langit dan bumi yg Allah ketahui semuanya, baik yg nyata maupun yg ghaib. Jadi, itu sebabnya mengapa fir’aun menyembah berhala yg dianggap dewa, padahal berhala yg dianggap dewa tersebut ialah nabi yg terpilih untuk mengetahui semua yg Allah ketahui baik di bumi maupun di langit, itulah sebabnya kerajaan2 terdahulu yg ada di dunia ini menyembah berhala yg dianggapnya Tuhan atau dewa, yg padahal mereka semua ialah kaum muslimin yg soleh yaitu para nabi dan rosul.
”Dan Dia mengajarkan kepada
Adam nama-nama (benda-benda/ilmu) seluruhnya,
kemudian mengemukakannya kepada para
Malaikat
lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama
benda-benda itu jika kamu memang orang-orang
yang benar!” Mereka menjawab: “Maha Suci
Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari
apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami;
sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui
lagi Maha Bijaksana,” (QS.Al-Baqarah: 31-32)
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan
bahwa berita mengenai pemberitahuan Adam as
kepada Malaikat tentang nama-nama segala
sesuatu, didahulukan daripada berita mengenai
sujudnya Malaikat kepada Adam as. karena
memang ini yang sesuai dengan ayat
sebelumnya. Di ayat sebelumnya para Malaikat
bertanya mengenai hikmah dijadikannya manusia
sebagai khalifah di muka bumi, padahal mereka
akan merusak dan membunuh. Maka Allah swt
menjelaskan bahwa Dia lebih tahu apa-apa yang
belum diketahui oleh para Malaikat.
﴾ Al Baqarah:34 ﴿
Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.
Sejak dahulu kala ilmu islam itu sempurna atau “kaffah”, maka dari itu kita diperintahkan oleh Allah untuk masuk islam secara “Kaffah/menyeluruh/sempurna” karena di dalam kitab2Nya terdapat ilmu yg menyeluruh/sempurna yg harus dipelajari semuanya, bukan dipelajari setengah2 sehingga menjadi ilmu yg buta sebelah. ilmu itu meliputi ilmu ilmiah, ilmu hikmah, ilmu yg nyata dan yg ghaib yg masuk logika semuanya, maka dari itu musuh2 islam memusuhi atau mendengki islam, maka dari itu banyak peradaban maju dari kerajaan2 terdahulu yg banyak ditemukan diseluruh bumi ini. karena banyak diantara mereka yg menginginkan ilmu2 islam itu untuk dimiliki sendiri, demi politik dan kekuasaan, mereka iri kepada nabi, rosul dan khalifah islam yg terpilih untuk memiliki semua ilmu yg diketahui Allah di langit dan di bumi, maka dari itu mereka merubah sejarah yg ada, mengartikan sejarah yg ada demi menutupi ilmu2 islam yg sudah canggih sejak dahulu kala. dan akhirnya di zaman ini mereka musuh2 islam berhasil merebut ilmu2 islam meskipun tidak semuanya, demi sebuah politik, kekuasaan dan membesarkan kelompok nya. merekalah sekarang yg mengendalikan semua aspek kehidupan dizaman ini, mereka (musuh islam) dizaman ini memenuhi bumi ini dengan kebodohan yg di doktrin keseluruh aspek kehidupan, lalu diperkuat dengan nafsu duniawi yg mereka ada2kan, semuanya serba memerlukan uang dan uang, yg seharusnya dahulu itu dunia ini dipenuhi dengan ilmu dan ilmu.
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian kepada Islam secara kaffah (menyeluruh), dan janganlah kalian mengikuti jejak-jejak syaithan karena sesungguhnya syaithan adalah musuh besar bagi kalian.” [Al-Baqarah : 208]
﴾ Al Israa’:6 ﴿
Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar
Sri krishna yg dianggap dewa umat hindu ialah kaum muslimin atau seorang nabi/rosul juga, bisa kita ketahui dari kitab umat hindu disaat sri krishna menjelaskan ilmu ketuhanan yg seluas langit dan bumi kepada arjuna, sri krishna yg sebenarnya nabi atau rosul telah diajarkan langsung oleh tuhan yg sebenarnya yaitu Allah. Allah Swt mengajarkan ilmu langit dan bumi seluruhnya ke nabi dan rosul yg terpilih…
Sloka Bhagavad Gita :
ihaikasthaṃ jagat kṛtsnaṃ paśyādya
sacarācaram
mama dehe guḍākeśa yac cānyad draṣṭum
icchasi ||11.7|
“Wahai Arjuna apapun yang ingin engkau lihat,
lihatlah dengan segera dalam badan-Ku ini!
Bentuk semesta ini dapat memperlihatkan
kepadamu apapun yang engkau ingin lihat
sekarang dan apapun yang engkau ingin lihat
pada masa yang akan datang. Segala sesuatu-
baik yang bergerak maupun yang tidak
bergerak-berada di sini secara lengkap, di satu
tempat.”
anekavaktranayanam anekādbhutadarśanam
anekadivyābharaṇaṃ divyānekodyatāyudham ||
11.10|
divyamālyāmbaradharaṃ
divyagandhānulepanam
sarvāścaryamayaṃ devam anantaṃ
viśvatomukham
||11.11|
“11.10-11
Dalam bentuk semesta itu, Arjuna
melihat mulut-mulut yang tidak terhingga, mata
yang tidak terhingga, dan wahyu-wahyu ajaib
yang tidak terhingga. Bentuk tersebut dihiasi
dengan banyak perhiasan rohani dan membawa
banyak senjata rohani yang diangkat. Beliau
memakai kalung rangkaian bunga dan
perhiasan rohani, dan banyak jenis minyak
wangi rohani dioleskan pada seluruh badan-
Nya. Semuanya ajaib, bercahaya, tidak terbatas
dan tersebar kemana-mana.”
Dan yg terakhir khalifah Allah atau Khalifatullah Imam Mahdi atau ratu adil juga diajarkan semua ilmu yg Allah ketahui di langit maupun di bumi, untuk mengembalikan islam seperti dahulu kala, bukan seperti yg sekarang ini yg ilmu agama islamnya buta sebelah…..
Jangka jayabaya. serat musarar bait 164 :
putra kinasih swargi kang jumeneng ing gunung
Lawu
hiya yayi bethara mukti, hiya krisna, hiya herumukti
mumpuni sakabehing laku
nugel tanah Jawa kaping pindho
ngerahake jin setan
kumara prewangan, para lelembut ke bawah
perintah saeko proyo
kinen ambantu manungso Jawa padha asesanti
trisula weda
landhepe triniji suci
bener, jejeg, jujur
kadherekake Sabdopalon lan Noyogenggong
Artinya :
putra kesayangan almarhum yang bermukim di
Gunung Lawu
yaitu Kyai Batara Mukti, ya Krisna, ya Herumukti
menguasai seluruh ajaran (ilmu langit dan bumi)
memotong tanah Jawa kedua kali
mengerahkan jin dan setan
seluruh makhluk halus berada dibawah
perintahnya bersatu padu
membantu manusia Jawa berpedoman pada
trisula weda
tajamnya tritunggal nan suci
benar, lurus, jujur
didampingi Sabdopalon dan Noyogenggong
Serat centhini jilid 4 (terusan jangka jayabaya, berdasarkan hadits) :
b. Ping telulas, patbelas myang gangsal welas,
tumedhak Imam Mahdi, aneng antaranya, rukun
kalawan makam, Ibrahim Mekah nagari, yuswaya
lagya, sakawandasa warsi.
Artinya: Pada tanggal 13, 14, dan 15, turunnya
Imam Mahdi diantara Makam Ibrahim dan Ka’abah
di Mekah, usianya sekitar empat puluh tahun.
c. Ingkang dadya pangareping wadyabala, Malekat
Jabarail, dene pamburinya, Malekat Mingkailla,
jumenenge Imam Mahdi, lir Hyang Suleman, kadi
Dulkarnaeni.
Artinya: Yang jadi balatentaranya, Malaikat Jibril di
depan sedangkan di paling belakang Malaikat
Mikail. Diangkatnya Imam Mahdi seperti Nabi
Sulaiman juga seperti Dhulkarnain
“Al Mahdi akan memiliki seluruh dunia.” (Al-Muttaqi al-Hindi, Al-Burhan fi `Alamat al-Mahdi Akhir al-Zaman, hal. 10)
“Dia disebut Al Mahdi karena dia diberikan
pedoman untuk sebuah keadaan yang tidak
diketahui oleh siapa pun juga.” (Al-Muttaqi al-
Hindi, Al-Burhan fi `Alamat al-Mahdi Akhir al-
Zaman, hal. 77)
“ Sungguh, bumi ini akan dipenuhi oleh kezhaliman
dan kesemena-menaan. Dan apabila kezhaliman
serta kesemena-menaan itu telah penuh, maka
Allah SWT akan mengutus seorang laki-laki yang
berasal dari umatku, namanya seperti namaku, dan
nama bapaknya seperti nama bapakku. Maka ia
akan memenuhi bumi dengan keadilan dan
kemakmuran, sebagaimana ia (bumi) telah dipenuhi
sebelum itu oleh kezhaliman dan kesemena-
menaan. Di waktu itu langit tidak akan menahan
setetes pun dari tetesan airnya, dan bumi pun tidak
akan menahan sedikit pun dari tanaman-
tanamannya. Maka ia akan hidup bersama kamu
selama 7 tahun, atau 8 tahun, atau 9 tahun. (HR.
Thabrani) ”
Wallahu’alam..

Tuesday, April 19, 2016

Bongkahan Pustaka dari Garut


Tiap tahun, Ajengan Muhammad Nuh Ad-Dawami (77) melahirkan kitab. Selama bulan puasa, kitab itu dikaji bersama para santrinya. Dari tangannya, lahir puluhan kitab. Uniknya, masih ditulis tangan. Karangan itu pun hanya tersebar di para muridnya.
Karyanya pernah diupayakan ditulis ulang dengan komputer. Kemudian ia memeriksanya. Rupanya banyak salah ketik. Komputerisasi pun dihentikan. Karena tak pernah bisa mengetik, ia pun kembali menggoreskan penanya. Kebiasaan itudilakoni sejak belia, ketika nyantri sejak usia dini.
Ia bermukim di Cisurupan, 35 km arah selatan dari pusat Kota Garut. Jika bicara, suaranya bariton dan tegas, khas penceramah. Ia memang penceramah keliling. Di usia jelang kepala delapan, masih berkeliling ke tempat-tempat terpencil. Terutama Garut selatan, seperti Bungbulang, daerah yang bertahun-tahun dibinanya.
Waktu itu sore ditingkahi gerimis. Perkampungan Cisurupan disembunyikan kabut. Ajengan Nuh bersandar ke dinding rumahnya. Ia mengenakan sarung krem bergaris hijau. Kopiahnya dilucut, disimpan di samping. Tubuhnya dibalut jaket hijau muda. Hawa dingin memang menusuk. Ia bercerita.
Tahun 90-an, ia dianjurkan Enas Mabarti untuk menuliskan ceramah-ceramahnya. Enas, penulis kelahiran Tasikmalaya yang tinggal di Garut, kagum akan ceramahnya. Sampai ia menawarkan asisten untuk sang ajengan.
Ajengan yang disapa Akang oleh santri dan Abah oleh anaknya, meminta Ai Sadidah, puteri ketiga membawakan kitab-kitabnya. Kepada Surah, ia perlihatkan Mustika Akidah: Widuri Pamanggih, Tauhid Praktis ‘ala Thariqah Ahli Sunah wal-Jamaah, Peperenian Lentera Cacaang, Jalan Ambahan Kabagjaan Jalma Awam.
Kemudian Taraweh Qiyam Ramadhan, Tutungkusan Permata, Tauhid Amaly Ahlu Sunah wal-Jamaah, Hizb Tafrij Kurab Qodlai Hajati (Senjata Panyinglar Kasusah Nutupan Pangabutuh), Al-Mukhtashar fi Tauhidy wa-Ta’biruhu bil-Adzkari, Karakteristik Ahl Sunah wal-Jamaah, al-Muhtaj Ilaih.
Rata-rata karya pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda berbahasa Sunda, karena ia ingin bicara kepada kaumnya, disamping menjaga bahasa ibu para santri. Selain itu, ada juga berbahasa Arab dan Indonesia.
“Akhir tahun 80-an Abah sudah menulis, seperti tukilan Ilmu Bayan, Ilmu Ushul Fiqh, Bab Tarawih, Bab Syahadat. Tapi, secara serius dalam satu buku seperti Bentang Salapan, sejak tahun 2000,” kata putera Ajengan Nuh, Cecep, kepadaSurah, bulan Februari lalu.
Jauh sebelumnya, Garut telah melahirkan ratusan penulis dengan karya-karyanya. Garut punya trah kepenulisan panjang. Mulai dari karya sastra, penelitian ilmiah, dan risalah keagamaan.
Subur tanah, subur risalah


Garut, sebagaimana wilayah selatan Jawa Barat, bertanah pegunungan dan bebukitan. Ada rangkaian gunung api aktif yang mengelilingi dataran dan cekungan antar gunung, seperti komplek gunung Guntur, Haruman, Kamojang di sebelah barat,  Papandayan, Cikuray di sebelah selatan dan tenggara, dan gunung Cikuray, Talagabodas, Galunggung di sebelah timur. Letusan gunung berapi berabad lalu, menyebabkan tanah Garut subur untuk pertanian dan perkebunan.
Pada zaman kolonial, tak kurang 35 kebun dikelola Belanda. Bahkan, dari Garut pula tanaman teh dikembangkan, yang kemudian ditanam di daerah-daerah lain.
Alamnya yang hijau dan kontur bebukitan jadi daya tarik tersendiri. Keindahan Garut pernah membuat orang Belanda menjuluki Swiss van Java. Konon karena itulah,Charlie Chaplin, bintang film serbabisa kelahiran Inggris, pernah ke Garut. Bukan hanya Chaplin, tapi si pemilik kumis Hitler itu hingga dua kali berkunjung.
Tak hanya untuk tanaman, tanah Garut subur pula melahirkan penulis. Ratusan karya lahir dari tangan anak-anaknya. Dari waktu ke waktu seolah ada barisan panjang, turun-temurun, sambung-menyambung untuk menulis. Sepertinya, orang garus unya rumus; subur tanah harus subur risalah.
Pada periode awal, para pengarang menggunakan Wawacan sebagai cara penulisan. Wawacan  adalahcaramenulis berbentuk dangding, yaitu tulisan terikat dalam aturan pupuh 17. Misalnya pupuh Kinanti, vokal akhir harus berbunyi u-i-a-i-a-i.
Selain wawacan, yang termasuk dangding adalah guguritan. Perbedaannya, wawacan biasanya terdiri bermacam-macam pupuh; berisi cerita babad, wayang; kisah kontemporer. Sedangkan guguritan umumnya terdiri satu-dua pupuh yang tidak begitu panjang.
Pengarang yang menulis dengan wawacan adalah Raden Haji Muhammad Musa (1822-1886). Pada usia belia, ia diajak ayahnya, Raden Rangga Suryadikusumah (Patih Limbangan), naik haji. Sepulang dari tanah suci, ia belajar agama di sebuah pesantren Purwakarta.
Musa menulis dalam bentuk wawacan sebanyak 11 judul dan 33 dalam bentuk prosa. Di antara buah tangannya adalahWawacan Raja Sudibya (1862), Wawacan Wulang Krama (1862), Wawacan Secanala (1863), Wawacan Ali Muhtar (1864), Wawacan Wulang Murid (1865), Wawacan Panji Wulung (1871) Dongeng Pieunteungeun (1867), Katrangan Lampar Sebar(1874), Dongeng-dongeng nu Araneh (1884).
Menurut penelitian Mikihiro Moriyama, Musa adalah tonggak perkembangan modernitas di kalangan orang Sunda. Terutama dalam karyanya “Wawacan Panji Wulung. Dalam buku itu, ia  menggambarkan jiwa-jiwa modern, seperti tokoh yang mengandalkan bukti dan nalar.
Peneliti Jepang tersebut menganggap modern ketika Musa menulis tokoh utama yang tidak umum pada wawacan. Musa mislanya menulis tokoh yang tidak mempercayai dukun. Padahal, cerita wawacan biasanyadidominasi khayalan tak masuk akal.
Cara berpikir Musa seperti itu, tak bisa dimungkiri karena terpengaruh seorang Belanda, K.F Holle. Keduanya berkawan selama 30 tahun. Holle-lah yang mendorongnya untuk menulis dari mulai tradisi Sunda hingga persoalan pertanian.
Musa memiliki puteri, Raden Ayu Lasminingrat (1843-1948). Ia pengarang angkatan pertama perempuan Sunda. Dari tangannya, lahir Warnasari (2 jilid), terjemahan dari buku bahasa Belanda Verhalen van Moeder de GansIa pula bersama Raden Dewi Sartika, perempuan perintis pendidikan perempuan Sunda dalam lembaga Sakola Istri.
Pengarang lain yang menggunakan wawacan adalah Haji Hasan Mustapa (1852-1930). Ia adalah seorang penghulu, ulama dan pujangga Sunda terbesar. Ia sangat populer dengan tulisandangdingnya. Sekitar tahun 1900, Haji Hasan Mustapa (selanjutnya HHM) menulis 10.000 bait dangding yang mutunya dianggap tinggi oleh para pengeritik sastra Sunda.
Menurut Hawe Setiawan, dalam sastra Sunda, karya-karya HHM adalah tonggak penting sebagai puisi yang mengandung mistisisme Islam. Hingga kini, karya-karyanya dalam bentuk dangding, belum ada yang mampu menandingi.
Di antara karya HHM adalah Gelaran Sasaka dina Kaislaman(tanpa tahun), Bale Bandung(1925), Patakonan jeung Jawabna(surat-surat HHM dengan Kiai Kurdi Tasikmalaya, tanpa tahun), Bab adat-adat Urang Priangan jeung Sunda Liana ti Eta(1913).
Beberapa karyanya disimpan di perpustakaan Leiden, Belanda. Di antaranya Istilah, Martabat Tujuh, Basa Kolot, Gurinda Alam, Babaran Ngeunaan Basa Sunda dan Buka Rahasia Sebetulnya Aceh dan Pidi.
Karya-karyaHHM, dibagi ke dalam dua golongan, yakni puisi dan prosa. Dalam golongan pertama, terdapat dangding. Golongan kedua, terdapat uraian mengenai pokok masalah tertentu yang biasanya diselipi dangding, dan dialog dalam bentuk tanya-jawab.
Dalam tulisan-tulisannya, ia dituduh berpandangan wahdatul wujud (faham menyatunya manusia dengan Tuhan). Salah satu tuduhan datang dari Sayid Utsman bin Aqil. Menjawab tuduhan, ia menulis risalah berjudul Mayar Kontan, Sakalian Ngabekem Gelap Saleser (Membalas kontan sekalian membekap guntur menyambar).
Garut Terus Menulis
Tanah Garut tetap subur melahirkan karya tulis dari tangan anak-anaknya. Publik sastra Indonesia tidak akan melupakan novel Atheis (1949)Novel tersebut diangkat ke layar lebar dengan judul sama tahun 1974. Pengarangnya Achdiat Karta Mihardja (1911-2010). Ia tokoh sastra Indonesia yang hidup di lima zaman (Belanda, Jepang, Orde Lama, Orde Baru, dan Orde Reformasi).
Achdiat mendokumentasikan perdebatan kebudayaan para pendiri bangsa ini dalam Polemik Kebudayaan (editor, 1948). Dari tangannya juga lahir Bentrokan dalam Asrama (drama, 1952), Keretakan dan Ketegangan (kumpulan cerpen, 1956), Kesan dan Kenangan (1960), Debu Cinta Berterbangan (novel, 1973) Belitan Nasib (kumpulan cerpen, 1975).
Di tahun sama, terbit kumpulan cerpennya, Pembunuhan dan Anjing Hitam. Tahun 1977, mengarang naskah drama Pak Dullah in Extrimis(drama, 1977), Si Kabayan, Manusia Lucu (1997)Manifesto Khalifatullah (novel, 2006).
Tahun 1928 lahir Dodong Djiwapradja. Sejumlah puisinya tersebar di majalah juga antologi Gema Tanah Air (1948) susunan H.B. Jassin, Laut Biru Langit Biru (1977) susunan Ajip Rosidi. Baru tahun 1997 dia menerbitkan puisi tersendiri bernama Kastalia (kumpulan sajak 1948-1973). Sajak-sajaknya dikumpulkan juga Linus Suryadi A.G. dalam Tonggak(1987).
Sembilan tahun kemudian, Garut melahirkan sastrawan Wing Kardjo Wangsaatmaja. Ia menulis sejumlah puisi yang dikumpulkan dalam Selembar Daun (1974), Perumahan (1975), Fragmen Malam (1975). Ia juga menerbitkan Pohon Hayat: Sejemput Haiku (2002).
Lalu, tahun 1949, lahir Usep Romli HM. Ia tinggal di Desa Cibiuk. Pengarang yang ini menulis di mingguan Fusi,GiwangkaraPelitaSipatahunan, dan Pikiran RakyatKalawarta Kujang, Mangle, Hanjuang, Gondewa, Galura.
Sebagai seorang yang dibesarkan di pesantren, beberapa karyanyamengungkap duniasantri, diantaranya Bentang Pasantren (bintang pesantren, novel, 1983), Cuerik Santri (tangis santri, kumpulan Cerpen, 1985) Jiad Ajengan, (jampi-jampi Kiai, cerpen, 1991), Percikan Hikmah (kumpulan anekdot Islam, 1999), dll.
Surah pernah bertamu ke rumah pengarang yang masih produktif menulis ini. Dan beberapa kali komunikasi melalui ponsel dan jejaring sosial.
Di ruang tamunya, terdapat beragam jenis buku. Baik karya sendiri maupun karya penulis lain. Juga terdapat kitab-kitab kuning yang biasa dikaji di pesantren. Ia memang ahli bahasa Arab. Kemampuannya itu telah mengirimkannya dalam liputan Timur Tengah manakala ia jadi wartawan Pikiran Rakyat.
Beberapa piagam penghargaan tergantung di dinding. Ia memang pernah meraih penghargaan Hadiah Mangle (1977), Hadiah Penulisan Buku Depdikbud (1977), Piagam Wisata Budaya Diparda Jabar (1982) serta Hadiah Sastra LBSS (1995). Juga anugerah Rancage (2010) untuk kategori karya, yaitu buku Sanggeus Umur Tunggang Gunung; dan Rancage kategori jasa (2011)
Menurut Usep, sejak awal abad 18, Garut sudah menjadi sumber ilham para sastrawam, pelukis, dan fotografer. Pengarang Arab Abdullah Assegaf menulis Fatat Qarut (novel, Gadis Garut), penyair Jerman juga pernah menulis puisi-puisi berlatar belakang keindahan Garut.
Moh. Ambri, sastrawan Sunda yang terkenal terkenal dalam bukunya Numbuk di Sue (1936), memakai daerah Garut Selatan yaitu Waspada, Cikajang, Cisompet, Cilauteureun sebagai latar kisah.
“Hal ini membentuk tradisi intelektual penduduk stempat untuk aktif dan kreatif melahirkan karya-karya tulis,” paparnya.
Karena itulah hingga kini, Garut terus berkarya melalui pengarang-pengarangnya seperti Surachman RM, Olla S Sumarnaputra, Abdullah Mustapa, Ai Koraliati, Andan Purasasmita, Apip Mustopa, Nenden Lilis A., Asep Salahudin, dan Iip D. Yahya.
Sebelumnya, tanggal 23 Januari 2013, Usep mengirimkan pesan singkat ke ponsel saya. Isinya mengabarkan orang Garut yang memiliki ‘tenaga dalam’ luar biasa dalam menulis. Dalam sehari, tulisannya tentang Maulid Nabi Muhammad, dimuat di tujuh koran berbeda dengan perspektif berbeda.
Ketujuh artikel tersebut adalah Maulid Politik Kenabian (Kompas), Religiusitas Maulid Nabi (Republika), Spirit Budaya Kenabian (Republika rubrik Kabar Jabar), Maulid Kita (Pikiran Rakyat), Tarekat Kultural Maulid (Tribun Jabar), Maulid dan Paradoks Keberagamaan (Media Indonesia), dan Semiotika Berkat Maulid (Jurnal Nasional).
Penulis tersebut adalah Asep Salahudin, santri Limbangan yang kini mengabbdi Pesantren Suryalaya Tasikmalaya. Dalam produktivitas menulis, ia pernah memeroleh anugerah Rucita Aksara dari Universitas Padjajaran dalam kategori mahasiswa (S3) tahun 2012. Anugerah tersebut diberikan kepada dosen dan mahasiswa yang paling produktif menulis di media massa.
Usep pun menjelaskan semangat orang pesantren menulis. Menurut pengasuh Pesantren Raksa Sarakan (Cinta Tanah Air) ini, menulis itu karena dakwah. Bagi orang pesantren, dakwah tidak hanya dengan lisan, tapi juga tulisan.
Sebagaimana Muhammad Musa, Haji Hasan Mustapa, pesantren melahirkan penulis handal seperti KH Teten (Pesantren Al Ulfah Lewo, Malangbong), KH Hasan Basri (Pesantren Keresek Cibatu), KH Uding Bahrudin (Wates, Limbangan). Juga Ajengan KH Nuh Ad-Dawami, kiai yang dituturkan di muka tulisan ini.
Lalu, dalam benak saya terbersit sebuah pertanyaan, apakah daerah lain memiliki khasanah pustaka seperti Garut? Kemungkinan besar punya, tapi kemungkinan besar juga kita mengerti. Bukankah di antara kita banyak yang tidak mengerti tentang daerah kita sendiri, sehingga silau dengan negeri nan jauh? Ah, sudahlah, saya ingin menjelajah bongkahan pustaka di daerah lain lagi. (Abdullah Alawi)

Wednesday, March 2, 2016

puisi Sebatas Rindu – oleh Septina Aulina Fransisca

Sebatas Rindu
oleh: Septina Aulina Fransisca
Rasa sepi berselimut rindu
Hati yang rapuh dibalik gelak tawa yang bahagiaRindu ini muncul begitu saja
Membuatku terhanyut dalam lamunan yang tiada arti

Hati ini memaksaku untuk masuk kedalam angan tentangmu
Pipiku pun mulai merasakan air mata yang menetes
Selemah inikah hatiku?
Dikalahkan oleh sebuah rasa yang seharusnya sudah ku buang jauh
Sepenggal hati yang tak bisa menahan rindu
Kemana rasa ini harus kubuang?
Ku telusuri lagi hati ku, dan terus bertanya
Adakah kau merasakan hal yang sama?
Atau ini hanya sebatas rindu yang sepihak?
Sebatas Rindu – oleh Septina Aulina Fransisca
Tangerang Selatan
https//twitter.com/chikaahh

Tuesday, March 1, 2016

cerpen karya gilang rahmawari-monolog kucing

monolog kucing
karya: gilang rahmawati



*bruk
Aku terlempar dari ketinggian, kulihat ke langit-langit ada tangan yang melepasku. Bukan..bukan, dia bukan melepasku tapi melemparku. Teramat keras, hingga terasa tulangku berbunyi terkena aspal keras.
Pemilik tangan itu pergi, menjauhiku. Rasanya aku ingin memaki tapi ternyata air mata lebih dahulu turun di ujung mataku. Ah, tidak! Aku menangis, bukan memaki. Dia –pemilik tangan- itu benar-benar pergi dan menghilang di ujung jalan meninggalkanku yang masih berusaha berteriak padanya.
“Meoooonngg…” aku merintih.
Baru saja rasanya tadi pagi aku merasakan nikmatnya sepiring ikan asin bersama saudaraku. Tapi, sekarang di tengah teriknya matahari di atas kepalaku. Aku kebingungan dan kelaparan. Aku mulai mengendus, mencari sesuatu yang mungkin bisa kumakan. Di balik pohon itu ada tong sampah, tapi selama aku hidup tak pernah kusentuh dan kucari makanan dari tong sampah.
Aku hanya bisa menatap bentuk tong sampah itu. Seharusnya aku bisa menjatuhkan benda itu, sebab ia tidak begitu tinggi. Tapi, aku terlalu enggan untuk mendekatinya. Ternyata keenggananku ini diperhatikan oleh kucing lain.
“Kenapa? Kamu jijik ya ke tong sampah?” godanya dari atas pagar.
Aku hanya terdiam. Bingung kata apa yang bisa kuberi untuk menjelaskan aku tidak pernah menyentuh tong sampah.
“Tampaknya aku baru melihatmu di sini, asalmu darimana?” tanyanya lagi.
“Aku..akuuu.. Entahlah, tadi manusia melemparku dan ia telah memisahkanku dari saudaraku.” Aku mulai bisa berbicara dengan kucing itu.
Saat kami asik berbincang (tentu saja dengan bahasa kucing) ada air yang jatuh dari atas. Ku pikir itu air hujan tapi ternyata air yang berasal dari ember yang dilempar oleh manusia.
“Huuusshh huussh, jangan berkelahi di sini… sana sanaaa..” bentak manusia itu.
Aneh, padahal kami berdua tidak berkelahi. Ya, kami hanya berbincang saja. Kini tubuhku basah kuyup dan kucing yang tadi baru kukenal telah hilang dari pandanganku. Ia berlari menjauhi manusia itu.
Aku berjalan pelan lalu duduk dan menjilati tubuhku, mengeringkan bulu-buluku yang basah. Aku masih menerka-nerka, sejauh mana aku dibuang sekarang. Karena, selama perjalanan aku hanya melihat kegelapan. Hanya telingaku saja yang berusaha mendengar suara-suara di luar kardus. Aku seperti diculik tapi sayang ini bukan penculikan tapi pembuangan.
Masih menjilati bulu-buluku yang basah, aku menerka-nerka apa kesalahanku hingga dibuang begini. Setiap pagi aku hanya berjalan-jalan mengelilingi rumah itu, ya memang sesekali aku menaiki sofa milik mereka. Tapi toh aku tidak mencakar-cakar, aku hanya berbaring di sana. Sering kali aku berkeliling di plafon untuk mencari tikus. Bukankah itu menguntungkan bagi mereka, setidaknya aku membasmi tikus-tikus yang sering memakan apa saja yang ada di dapur.
Dan kebaikanku dibalas dengan melemparku jauh dari tempatku lahir? Ah, tega.
Memang aku bukan lagi kucing kecil, sebab tubuhku kini sudah lebih besar dan sudah bisa menangkap tikus. Apa karena aku telah menjadi besar, sehingga aku dilempar?
Aku mulai berjalan lagi mengikuti jalan trotoar yang panas menyengat, sambil masih menerka-nerka kesalahanku. Hingga aku lelah sendiri mencari jawabannya. Jadi, kuputuskan untuk melupakannya dan menganggap ini memang sudah pantas kualami. Toh pada akhirnya aku memang sudah harus berpisah dari saudaraku. Ya, meski aku tetap tidak terima dengan cara dilempar seperti tadi.
“Meooonng..”
Aku mengeluarkan suara untuk mengetes seberapa ramai atau seberapa sunyi tempat yang baru ini. Kakiku mendadak lemas sebab perut terus saja merengek minta diisi. Kutoleh lagi tong sampah yang sudah kutinggal pergi. Mungkin di dalam tong itu banyak isi yang bisa menganjal perutku.
Sepertinya tong sampah itu berbicara padaku, “ayolah kemarii…” hingga ia berhasil menyeret kakiku untuk balik arah mendekatinya.
Aku berusaha berdiri di tepi tong dan melihat ke dalam tong.
*Wuusshh..
Suara angin tampaknya menertawakan kepedihanku, tong itu tidak berisi makanan. Hanya ada setumpuk kertas. Mungkin seharusnya aku makan kertas saja jika siang ini tidak mendapati makanan. Ah, sejak kapan kucing makan kertas? Mau cari mati rupanya aku.
Tempat ini memang ramai, tapi ramai oleh motor yang lalu-lalang. Tidak ramai oleh orang-orang yang jalan kaki. Aku duduk di pinggir trotoar, mengusap-usap kepalaku. Dari balik pagar di sebuah rumah, ada seorang anak perempuan yang berteriak mengagetkanku.
“Iiiii ada kuciiing lucuu..”
Anak itu berlari mendekatiku, aku berusaha mundur menjauh. Dia begitu asing, tapi entah kenapa aku mencium ‘aroma’ kebaikan di tangannya. Aku masih tetap bertahan dengan sikapku yang terus mundur. Anak itu juga masih bertahan untuk mendekatiku.
“Puuss..meoong sini..”
Aku masih enggan mendekat, kubalas dengan suara meong saja, “Meeoonngg..”
“Okeeh okeh, sebentar ya pus..” ucap anak itu lantas ia pergi meninggalkanku yang masih ketakutan.
Anak itu masuk ke dalam rumahnya. Tak berselang lama ia kembali lagi dan lihat… Dia membawa sepiring nasi bercampur ikan asin dan ah apa itu seperti semangkuk air.
Terima kasih Tuhan kau mendengar suara perutku, tak perlu lagi aku mendatangi tong sampah di tempat lain. Sekarang, di depanku sudah ada sepiring ikan asin dan semangkuk air.
“Meoong..”
Aku berucap lirih masih dengan posisi menjauh darinya. Aku bukan takut tapi segan. Kubiarkan lama anak itu menjulurkan piring dan mangkuk itu. Tak bisa dibohongi aku memang tergiur, tapi aku segan!
Anak itu mengajakku bermain-main, ditariknya piring itu bergerak masuk ke terasnya. Aku mengikuti dengan jarak yang agak jauh. Hidungku terus saja bergerak-gerak, mengendus aroma sedap ikan asin. Ia meletakan piring itu di teras rumahnya yang teduh, ah terima kasih Tuhan dia mengerti aku kepanasan. Anak itu pergi meninggalkanku yang masih terdiam malu-malu.
“Meoonng..”
Aku mencoba mencarinya dengan bersuara, tak jua ia keluar. Kulihat kiri dan kanan, waspada pada kucing lain. Ini jatahku! Jangan sampai kucing lain mengambilnya. Kakiku berjinjit mendekati piring itu, hidung pun masih mengendus-endus.
“hhmm..nyaaamm..”
Terima kasih Tuhan, kau hadirkan sepiring ikan asin ini yang lezat.
*braaakk..
Reflek aku menoleh, mencari asal suara. Suara apa itu? Darimana? Anak tadi apa kucing lain?
Kugeser piring itu agak menepi, pokoknya ini jatahku jangan ada yang ikut memakannya. Kunikmati lagi setiap gigitan ikan asin sampai piring itu tampak bersih. Kujilati air pada mangkuk, segar. Selesai makan, aku duduk santai kekenyangan sambil menjilati kaki.
“Baaaa…”
Aih! Aku kaget, anak itu keluar dari pintu lalu berteriak nyaring.
“Dasaarrr kucing, memang sukanya malu-malu. Haha.. pantas saja ada peribahasa malu-malu kucing. Hahaha” anak itu tertawa geli, dan aku pun tersipu malu.
****
Kupanggil, dia cuma meoong.
Kutinggal, dia juga meoong.
Kulempar ikan, dia terdiam.
Kutinggal pergi, dia curicuri pandang.
Kuintip, dia mengunyah.
(Malu-Malu Kucing)
****

Gilang Rahmawati (GeeR)
Palangkaraya, 27 Juni 1990.

pengertian singkat tentang esai beserta contohnya

Cara Membuat Esai yang Baik dan Contoh Karangan Esai



- Esai adalah sebuah tulisan yang mengandung opini, pandangan, atau ekspresi pribadi mengenai sebuah hal yang sedang berlangsung di masyarakat, disertai bukti-bukti ilmiah yang mendukung / menguatkan opini,pendapat dan ekspresi diri kita terhadap hal tsb.
 Agar maksud yang ingin disampaikan dalam sebuah essay bisa tesampaikan dengan baik, maka sebuah esai harus ditulis dengan sebaik mungkin.

 Berikut ini adalah cara membuat esai yang baik :

1. Tentukan tema yang menarik

Sebelum menulis sebuah esai, tentukan terlebih dahulu esai apa yang ingin Anda tulis. Sebuah tema yang bagus akan mempengaruhi isi keseluruhan esai tersebut. Oleh karena itu, pilihlah tema yang sedang hangat – hangatnya terjadi, sehingga para pembaca mau meluangkan waktunya untuk membaca essai yang akan Anda tulis.

2. Lakukan research/riset (penelitian terhadap suatu hal yg menjadi isi dari esai tsb)

Setelah mendapatkan tema, lakukanlah research melaui buku atau internet tentang tema tersebut. Hal ini dilakukan untuk mendukung argument – argument yang ingin Anda tulis di dalam essay, sehingga pendapat Anda akan semakin kuat. Jika essay Anda didukung dengan data seperti, fakta, contoh, teori, dan lain – lain, maka esai tersebut akan menjadi bagus. Sebaliknya, jika esai Anda tidak memiliki data – data pendukung, tulisan Anda ini akan dianggap omong kosong dan orang – orang tidak akan percaya dengan esai yang Anda buat. 

3. Membuat outline (kerangka)

Membuat kerangka atau outline atau kerangka sangat berguna ketika membuat sebuah karya tulis. Hal ini dilakukan untuk menyususn ide–ide yang ingin diungkapkan. Selain itu, dengan outline, tulisan Anda tidak akan keluar dari ide atau tema, sehingga esai Anda akan koherence dan logis. 

4. Memperhatikan diksi (pemilihan kata)

Esai yang baik adalah esai yang menggunakan bahasa yang baik, hindari lah penggunaan kata tidak baku dan kata-kata yg tidak sopan, karena esai adalah karya tulis formal. Oleh karena itu gunakanlah bahasa–bahasa yang formal. Disamping itu, Anda juga perlu mempertimbangkan siapa calon pembaca esai. Jika calon pembaca esai Anda adalah para intelektual, gunakanlah bahasa intelektual pula. Sebaliknya, jika calon pembaca adalah masyarakat umum, gunakanlah bahasa umum, tetapi tetap menggunakan bahasa formal. Hal ini dilakukan untuk membuat esai Anda selain bagus secara struktur, juga baik secara konteks, karena mudah dipahami.

5. Kerjakan

Setelah hal–hal di atas telah selesai dilakukan, mulailah menulis. Dalam menulis esai ada tiga hal yang harus diperhatikan, yaitu :

  • Introduction/pendahuluan

Introduction adalah bagian awal esai, Bagian ini mengungkapkan hal yang akan dibahas di dalam sebuah esai. Selain itu, di dalam introduction juga terdapat statement Anda tentang suatu pemasalahan yang akan dibahas, tulislah statement tersebut dengan bahasa yang bisa menimbulkan pertanyaan dan keingintahuan dari pembaca untuk mencari tahu alasan – alasan  tentang statement tersebut.

  • Isi

Bagian selanjunya adalah isi. Bagian ini mengandung garis besar keseluruhan isi esai. Tulislah dengan mengacu pada point – point pada outline yang telah dibuat. Kembangkanlah point – point tersebut dan jangan lupa untuk memberikan pendukung berupa data agar opini Anda tidak lemah.

  • Penutup

Bagian selanjutnya adalah penutup. Bagian ini berupa konklusi atau kesimpulan dari esai. Tulislah kembali point – point pada bagian isi dengan bahasa lain dan dalam satu kalimat. Sebuah kesimpulan harus mewakili isi esai tersebut dan janganlah memunculkan ide atau topik baru pada bagain penutup. 

6. Judul

Judul juga penting dalam membuat esai. Judul yang baik adalah judul yang bisa memikat perhatian orang lain, sehingga mereka tertarik untuk membacanya. 

------------------------------------------------------------------------------------------------------------
contoh esai:

JUDUL=> Sastraku Sayang Sastraku Malang: Tragedi Pengajaran Sastra Di Indonesia



1. Pendahuluan

Akhir-akhir ini orang merasakan perlunya memperbaiki moral bangsa yang telah terpuruk dengan mengusulkan pelajaran budi pekerti dihidupkan kembali. Suara pro dan kontra pun timbul. Yang pro masih belum tahu, dalam bentuk apa pelajaran budi pekerti itu harus diajarkan. Sementara yang kontra menyangsikan kegunaan pelajaran itu karena hanya akan menambah beban siswa saja.

Dari fenomena itu sesungguhnya kita disadarkan bahwa ada yang salah dalam pengajaran sastra kita selama ini. Kita tidak pernah tahu akan fungsi sastra sebagai benteng/penjaga moral bangsa kendati kita menggalakkan bulan bahasa dan sastra dengan biaya yang tidak kecil setiap bulan Oktober. Apresiasi sastra dilaksanakan tanpa pemahaman sama sekali karena pelajaran sastra hanya dijadikan penunjang pelajaran bahasa. Sastra sebagai seni tidak pernah dikenal sehingga minat baca siswa pun mati dan ilmu pengetahuan tidak berkembang. Dunia pendidikan akhirnya tinggal rangka dan sumber daya manusia pun terpuruk. Jadi terapi untuk memperbaiki moral bangsa bukan dengan membuka lahan baru yang bernama budi pekerti, tetapi memperbaiki pengajaran sastra, baik di sekolah maupun di fakultas sastra.

Konon kabarnya, di Amerika seorang mahasiswa dari berbagai jurusan baru dapat menerima ijazah sarjananya jika ia berhasil lulus dalam mata kuliah sastra Amerika. Ini menunjukkan betapa pentingnya moral bagi para sarjana, yang kelak mungkin akan memangku berbagai posisi penting dalam pengambilan keputusan. Mereka sadar bahwa di tangan orang yang bermoral, ilmu pengetahuan mendapatkan tempatnya yang pas (tidak disalahgunakan), sehingga para sarjana (ilmuwan) dibekali dengan sastra. Jadi, fungsi sastra sangat menentukan. Oleh karena itu,  mengefektifkan pelajaran sastra berarti menanamkan moral pada anak-anak didik. Sekali merengkuh dayung, dua-tiga pulau terlampaui.
Bagaimanakah mendongkrak pengajaran sastra yang mandul itu? Makalah ini mencoba menjawab pertanyaan itu sebagai urun rembug (partisipasi) untuk mengatasi masalah itu.

2. Sastra adalah Moral
Jika orang membaca suatu karya sastra, ia ingin memperoleh kenikmatan darinya. Atas dasar itu, sastra harus ditempatkan pada posisi yang benar, yaitu posisi seni, bukan ilmu. Sastra adalah seni bahasa (poetic language). Ia sejajar dengan seni-seni lainnya, seperti seni lukis, seni patung, tari, dst. karena ia menyampaikan pesan melalui medium simbolis. Jadi, kenikmatan seni tidak berhenti pada kenikmatan sensual, tetapi berlanjut pada kenikmatan intelektual.

Sastra yang lebih khusus lagi adalah novel dan drama karena di dalamnya terdapat tokoh-tokoh yang hidup. Sambil menghibur novel atau drama mengajak kita berpikir, merenung, tentang tindakan tokoh-tokoh dan akibat yang ditimbulkan oleh tindakan-tindakan itu. Dengan cara demikian pembaca menemukan teladan bagi kehidupannya, yaitu berupa nilai-nilai moral (kebenaran) yang universal. Nilai-nilai moral itulah yang membuat sastra mempunyai nilai tinggi sebagai kebudayaan batin suatu bangsa. Jadi, sastra bukanlah objek atau benda mati, melainkan subjek karena ia hidup. Sastra dihidupkan oleh tokoh-tokohnya. Tugas pembaca adalah memahami tindakan tokoh-tokoh itu. Memahami berarti mencapai fusi antara dunia tokoh dan dunia pembaca. Jadi, hubungan pembaca dengan tokoh-tokoh imajiner di dalamnya itu adalah intersubjektif seperti kita berdialog dengan teman-teman dekat kita.

3. Sastra Sebagai Media

Sebagai seni yang bermuatan moral, sastra adalah media komunikasi antara pengarang dan pembaca. Sastra berusaha menyampaikan pesan kepada pembacanya. Dalam hal ini kemampuan pembaca dan kemampuan pengarang haruslah seimbang untuk dapat menangkap pesan itu. Di sini pembaca diharapkan paling tidak dapat merekonstruksi karya yang dibacanya.

Usaha rekonstruksi ini membutuhkan kajian ilmiah. Di sini sastra sebagai media berubah menjadi objek. Sebagai objek studi, sastra adalah simbol (symbolic form)yang harus ditafsirkan. Sastra memiliki makna ganda, yaitu makna harfiah (literal) dan makna kiasan (figuratif). Kita tidak berhenti pada maknanya yang harfiah, tetapi berlanjut pada maknanya yang figuratif (the meaning of meaning). Makna yang terakhir inilah yang disebut pesan (message). Dalam hal ini ucapan Marshall McLuhan, 'the medium is the message' juga berlaku dalam sastra.
Tujuan kita dengan menafsirkan sastra adalah menangkap pesan atau maknanya yang figuratif itu. Pesan itu bersifat metaforis karena sastra adalah cermin atau model bagi tindakan kita. Ia serupa pil pahit yang berlapis gula. Sastra memberi pelajaran tanpa menggurui, memberi nasihat tanpa menyakiti. Atas dasar itulah sastra adalah seni, ia mengungkapkan kebenaran yang pahit dalam kemasan yang indah, halus, dan menyejukkan. Sastra adalah dulce dan sekaligus utilesebagaimana kata Horatio.

4. Sastra Sebagai Simbol

Dengan judul ini dimaksudkan bahwa pemisahan sastra dalam bentuk dan isi sebagaimana yang terjadi selama ini dalam pengajaran sastra kita adalah sangat menyesatkan. Sastra adalah entitas (wujud) yang takterbagi karena sastra adalah simbol. Sebagai simbol sastra bermakna ganda. Maknanya inilah yang harus digali, bukan justru entitasnya yang dipecah-pecah. Begitu dipecah menjadi bentuk dan isi, sastra kehilangan sifatnya yang hakiki sebagai simbol dan tidak bisa lagi dipahami.

Sebagai seni, sastra adalah ekspresi simbolis (symbolic form), karena tidak menunjuk pada gejalanya sendiri atau pengalamannya sendiri secara langsung melainkan pada pengalaman yang sudah disimbolkan, yakni menjadi ungkapan simbolis dari pengalaman tersebut. Sastra adalah pengalaman yang sudah mengalami transformasi. Ia merupakan universalisasi pengalaman. Artinya, dalam menciptakan seninya, seniman merenungkan dan merasakan pengalaman yang langsung dan selanjutnya membuat pengalaman langsung itu menjadi pengalaman yang umum, yang bisa dicernakkan juga oleh orang lain.
Dengan demikian, sastra adalah lukisan formal sebuah kehidupan. Sebagai konsekuensinya, kajian sastra pun harus dilakukan secara formal pula. Dalam hal ini, semiotik adalah metode ilmiah yang cocok bagi sastra. Semiotik adalah disiplin yang meneliti semua bentuk komunikasi sejauh hal ini didasarkan pada sistem tanda (kode). Semiotik menggunakan ilmu bahasa (linguistik) sebagai modelnya, yaitu bahasa sebagai sistem. Jadi, baik linguistik maupun semiotik mengarahkan penelitiannya pada sistem. Linguistik meneliti sistem bahasa atau gramar, semiotik sastra meneliti sistem sastra atau konvensi sastra.

4. Semiotik sebagai Teori Sastra

Setiap karya sastra (poetic language) adalah tanda, yaitu kesatuan penanda (bentuk/struktur) dan petanda (isi). Tidak ada dualisme antara penanda dan petanda atau antara bentuk/struktur dan isi. Selanjutnya, hubungan antartanda disebut sintaksis, hubungan tanda dan acuannya disebut semantik, dan hubungan tanda dan pemakainya disebut pragmatik. Jadi, ada tiga aspek dalam hubungan tanda.
Tanda juga dibedakan atas ikon, indeks dan simbol. Karya sastra sebagai tanda adalah simbol, yang membutuhkan penafsiran untuk memahaminya atau menemukan maknanya. Dalam penafsiran aspek semantik mendapatkan fungsinya, karena pemahaman adalah menghubungkan tanda (dunia fiksi yang diciptakan pengarang) dan acuannya (dunia 'nyata').
Namun, untuk pemahaman yang ilmiah harus ditempuh dua cara secara berurutan, yaitu secara naif (verstehen) dan secara kritis (erklaren). Pada yang pertama penafsiran bertujuan menemukan makna (semantik luar), sedangkan pada yang kedua bertujuan menemukan sistem (semantik dalam). Jadi, tanpa yang pertama kita tidak akan mencapai yang kedua.

4.1. Tahap Verstehen

Makna secara ilmiah adalah kebenaran, yang dalam ilmu humaniora disebut kebenaran performatif, yaitu kesesuaian antara ucapan dan tindakan dalam berkomunikasi. Kebenaran performatif muncul dari tuturan performatif, yaitu kalimat yang menggunakan persona pertama, bentuk indikatif, waktu sekarang, aktif, di mana ucapan tidak punya isi selain tindakan yang dituturkan dalam ucapan itu. Di sini bahasa bukan sekedar alat untuk menuturkan tindakan, tetapi alat untuk melaksanakan tindakan yang dituturkan. Demikian juga sebaliknya, "ketika anda berbicara (atau menulis) anda tidak hanya melaksanakan suatu tindakan, tetapi juga menuturkan tindakan yang sedang anda laksanakan" (J.L. Austin, How to Do Things with Words, Oxford University Press, 1962).
Sastra sebagai humaniora adalah juga bentuk performatif. Di sini peran pengarang sebagai kreator berubah menjadi pengrajin sehingga sastra pun berubah menjadi teks yang otonom. Sastra menciptakan dirinya sendiri dengan peran kreator dipegang oleh subjek teks (tokoh) lewat tindakannya yang diucapkannya dalam tuturan performatif. Jadi, menulis tidak merujuk suatu pekerjaan merekam, mencatat, dst, tetapi merujuk suatu bentuk performatif yang di dalamnya ucapan hanya berisi tindakan yang dituturkan oleh ucapan itu.

... that writing can no longer designate an operation of recording, notation, representation, 'depiction' (as the Classic would say); rather, it designates exactly what linguists, refering to Oxford philosophy, call a performative, a rare verbal form (exclusively given in the first person and in the present tense) in which the enunciation has no other content (contains no other proposition) than the act by which it is uttered--something like "the I declare" of kings or "the I sing" of very ancient poets. Having buried the Author, the modern scriptor can thus no longer believe, as according to the pathetic view of his predecessor, that this hand is too slow for his thought or passion and that consequently, making a law of necessity, he must emphasize this delay and indefinitely 'polish' his form. For him, on the contrary, the hand, cuts off from any voice, borne by a pure gesture of inscription (and not of expression), traces a field without origin--or which, at least, has no other origin than language itself, language which ceaselessly calls into question all origins. (Barthes dalam Rice, 1989:116)

Memahami makna suatu teks berarti menemukan kebenaran performatif teks itu. Hal itu dapat dicapai hanya melalui pemahaman akan lakuan tokohnya. Untuk memahami lakuan tokoh perlu dipertanyakan hubungan antara pelaku dan lakuannya. Apakah pelaku adalah penyebab lakuannya? Jawabnya bisa ya dan bisa tidak tergantung pada kesadarannya, karena tidak semua lakuan tokoh disadari oleh yang bersangkutan. Di sini  kita sampai pada perbedaan hubungan antara sebab dan motif. Ada sebab tanpa motif dan ada motif tanpa sebab yang menimbulkan tindakan manusia. Pada yang pertama pelaku tidak menyadari tindakannya, sedangkan pada yang kedua pelaku sangat sadar. Hal yang pertama dikenal sebagai kendala (constraint), sedangkan yang kedua disebut motivasi, sesuatu yang  muncul dari dalam, seperti keinginan, cita-cita, hasrat (desire).

Sebagai hal yang tidak disadari, kendala bukan sesuatu yang mudah dipahami. Tugas kajian sastra adalah memahami lakuan tokoh yang ditimbulkan oleh kendalanya. Hal itu akan jelas dalam pertanyaan: apa yang menyebabkan seseorang melakukan hal itu? Kendala dapat dipahami jika konteksnya diketahui. Itulah sebabnya sastra tidak berlaku universal atau bahkan nasional. Sastra Jawa tidak untuk dikonsumsi orang Batak, misalnya. Bahkan ada kalanya kelokalannya dieksplisitkan dengan menggunakan bahasa lokalnya sendiri. Jadi, tidak heran jika ada sastra Indonesia yang banyak menggunakan kata-kata daerah, sepertiPengakuan Pariyem.
Dengan memahami kesadaran tokoh--yang berarti mampu memahami kendalanya--membaca sastra adalah berdialog dengan tokoh dalam sastra. Hubungan pembaca dengan tokoh imajiner itu bukanlah hubungan subjek-objek, melainkan intersubjek, seperti kita berdialog dengan manusia yang hidup. Kemampuan pembaca berempati dengan tokoh imajiner itu menentukan kemampuannya menangkap makna cerita yang dibacanya. Dengan demikian, memahami berarti mencapai fusi antara dunia tokoh dan dunia pembaca.

4.2. Tahap Erklaren

Penafsiran seperti di atas (verstehen) masih diragukan keilmiahannya. Ini berarti makna itu masih perlu diperjelas (erklaren). Jadi, untuk mencapai taraf ilmiah penelitian harus bergerak dari semantik ke semiotik, atau--seperti telah dikatakan di atas--dari semantik luar ke semantik dalam. Atau--dengan kata lain--dari paroleke langue atau dari fenomena ke sistem yang mengaturnya.
In order to become a science any human discipline must move from the phenomena it recognize to the system that governs them, from the parole to langue. In language, of course no utterance is intelligible to a speaker who lacks the language system that govern its meaning. The implication of this for literature are striking. No literary utterance, no "work" of literature, can be meaningful if we lack a sense of the literary system into which it fits. This is why Roman Jakobson insists that the proper object of literary study is "literariness".... (Scholes, 1974:14-5).

Dalam tahap ini makna teks yang simbolis itu dirumuskan dalam suatu model generatif narasi yang di dalamnya termuat gramar narasi dan semantik. Model yamng dibangun oleh Greimas itu disebut model aktan, yang berupa tiga hubungan oposisi biner yang seluruhnya terdiri atas enam aktan (peran): yaitu hubungan subjek/objek, pengirim/penerima, penolong/penentang. Ketiga hubungan itu menguraikan tiga pola dasar yang berulang dalam semua naratif: (1) kehendak, hasrat, atau tujuan (Subjek/Objek), (2) komunikasi (pengirim/penerima), dan (3) tindakan (penolong/penentang). Selanjutnya, Greimas menerapkan hukum transformasi terhadap ketiga hubungan dalam model aktan itu dan disebut model fungsional, yaitu berupa tiga tahap perkembangan: tahap kecakapan, tahap utama, dan tahap gemilang.
Model aktan yang bersifat akronis dan model fungsional yang bersifat diakronis tersebut adalah abstraksi lakuan tokoh (parole), yang oleh Roman Jakobson disebut literariness atau langue of literature.
Man is the Talking Animal: he is homo loquens. So, the fundamental structures of his language must inevitably inform and shape the fundamental structures of his stories. And even though those stories seems different on the surface, a 'structural' analysis reveals that they spring from a common 'grammar' or (to use the term which Greimas employs to give the sense of the model's fundamentally dramatic, interlocutory nature) 'enunciation-spectacle' (enonce-spectacle); the content of the actions changes all the time; the actor vary, but the enunciation-spectacle remains always the same, for its permanence is guaranteed by the fixed distribution of the roles. (Hawkes, 1972: 89)

Menurut Jakobson, kesastraan inilah yang memungkinkan ilmu sastra dapat mandiri. Oleh sebab itu, subjek ilmu sastra bukanlah sastra (literature) melainkan kesastraan (literariness).

With the object of literary studies circumscribed on the basis of differentiation and not on that of inherent qualities, it becomes possible both to established the notion of literariness, and to give some kind of scientific status to the study of literature. These two features are central to Formalist theory. Literariness, and not this or that work by this or that author, is the object of literary studies. Or, as Jakobson put it, 'The subject of literary science is not literature, but literariness, i.e. that which makes a given work a literary work.' (O'Toole and Shukman 1977: 17). It was as a result of studying individual literary works that preceding types of literary study had been led astray into adjacent disciplines. The heterogeneous nature of its object had led to a heterogeneous discipline, and it was only by making literariness the object of its enquiry that literary science could exist as an independent and indeed as a coherent and systematic type of study. (Jefferson, 1984: 20--21)


5. Hermeneutik sebagai Teori Kritis

Dengan semiotik kita baru mencapai tahap rekonstruksi, kita baru memahami teks (sense) secara ilmiah. Bagi kajian sastra yang komprehensif dan kritis hal ini belum cukup. Di sini pembaca dituntut kritis terhadap teks yang dibacanya, bahkan juga dituntut lebih pandai dari pengarangnya.

Pencarian makna yang lebih mendalam dilakukan dalam kajian hermeneutik karena hermenenutik adalah pendukung prinsip polisemi teks. Di sini penafsiran tidak berhenti pada maksud teks seperti pada semiotik yang menekankan prinsip monosemi teks, tetapi berlanjut dengan menyoroti perspektif pembaca karena hermeneutik adalah pendukung teori resepsi yang mengutamakan peran pembaca. Jadi, kajian hermenenutik mencakup dua tahap yang berurutan, yaitu tahap rekonstruktif yang hanya menyoroti intensi teks dan tahap produktif yang menyoroti perspektif pembaca. Yang pertama bertujuan menghindari salah paham, sedangkan yang kedua bertujuan agar dapat "memahami dengan lebih baik daripada pengarangnya". Ini berarti, setelah berhasil memahami teks yang dibacanya, pembaca dituntut untuk memahami diri lewat karya yang dipahaminya itu (refleksi). Oleh karena itu, Ricoeur berpendapat bahwa memahami adalah gerak dari apa yang dikatakan (sense) ke tentang apa yang dikatakan (reference).
Untuk menjelaskan pendapatnya itu, Ricoeur--seorang penganut teori makna pluralis--membedakan antara makna penutur (noetika) dan makna tuturan (noematika). Perbedaan ini perlu karena ia ingin mempertahankan kehadiran subjek dalam wacana (human discourse). Makna penutur mempunyai tandanya dalam makna tuturan karena struktur kalimat mengacu kembali ke si penutur lewat prosedur gramatikal yang disebut "shifter" (kata ganti, nama diri, kata penunjuk, adverbia ruang dan waktu), sedangkan makna tuturan adalah isi proposisi yang merupakan sisi objektif wacana. Makna tuturan mencakup "apa"-nya wacana (sense) dan "tentang apa"-nya wacana (reference)Sense adalah intensi teks yang dalam sastra identik dengan maksud narator, sedangkan reference adalah tanggapan pembaca. Berbeda dengan sense yang bersifat tertutup sebagai hasil rekonstruksi dari intensi teks, reference bersifat terbuka sebagai hasil refleksi oleh pembaca (apropriasi).

Dengan menghadirkan reference, Ricoeur menentang tesis dasar strukturalisme bahwa bahasa adalah sistem tertutup. Ricoeur berpendapat bahwa pemahaman tidak terhenti pada sense yang hanya bersifat rekonstruktif, tetapi harus berlanjut ke reference agar melalui teks yang dibacanya pembaca dapat menemukanmeaning atau makna bagi dirinya sendiri. Di sini, horison pembaca lebur dalam horison penulis dengan teks sebagai perantara dalam penyatuan horison ini. Peleburan ini diharapkan menghasilkan pemahaman diri. Dengan demikian, penafsiran menjadi produktif.
The purpose of all interpretation is to conquer a remoteness, a distance between the past cultural epoch to which the text belongs and the interpreter himself. By overcoming this distance, by making himself contemporary with the text, the exegete can appropriate its meaning to himself: foreign, he makes it familiar, that is, he makes it his own. It is thus the growth of his own understanding of himself that he pursues through his understanding of the other. Every hermeneutics is thus, explicitly or implicitly, self-understanding by means of understanding others. (Reagan, 1978:101)

Pemahaman diri atau transformasi diri adalah usaha menangkap kembali Ego dalam cermin objek dan tindakan, simbol dan tandanya. Jadi, penafsiran teks memucak pada penafsiran diri. Hal itulah yang terjadi dalam refleksi.

...that the interpretation of a text culminates in the self-interpretation of a subject who thenceforth understands himself better, understand himself differently, or simply begins to understand himself. This culmination on the understanding of a text in self-understanding is characteristic of the kind of reflective philosophy which, on various occasions, I have called 'concrete reflection'. (Thompson (Ed.) 1981:158)

Dengan demikian, penafsiran bukan sekedar cara mengenal dunia, melainkan cara berada di dunia (interpretation is not only a mode of knowing, but a mode of being in the world). Pendapat Ricoeur itu telah sejalan dengan nasihat Marx untuk "mengubah realitas dan bukan hanya menafsirkannya."

6. Penutup
Sastra modern yang tertulis dalam bahasa Indonesia mencakup berbagai budaya yang membentang dari Sabang sampai Merauke. Hal ini dapat dilihat dari latarnya.Pengakuan Pariyem berlatar Jawa, Warisan berlatar Minang, Upacara berlatar Dayak, dan lainnya. (Ada juga sastra yang berlatar Islam, Hindu, dsb.) Dari latar itu kita tahu bahwa karya-karya itu hanya untuk komunitasnya sendiri. Untuk memahami karya-karya yang etnosentris itu dibutuhkan kajian budayanya (cultural study). Hal inilah yang tidak pernah terjadi di Fakultas Sastra di seluruh Indonesia sehingga pengajaran sastra gagal membentuk budi pekerti (character and nation building) sebagaimana yang dicita-citakan oleh para bapak bangsa kita dulu. Pluralitas budaya yang tampak dalam sastra dibuang dan digantikan dengan kajian yang konon kabarnya ilmiah sehingga seragam. Semua sastra dengan latar belakang apa pun dikaji hanya dari urutan peristiwa (sekuen), penokohan, dan latar yang satu sama lain tidak berkaitan sehingga hampa dari nilai-nilai kehidupan. Sastra menjadi benda mati yang tidak berbicara apa-apa kepada pembacanya.

Sastraku sayang sastraku malang. Dunia pendidikan yang seharusnya mampu memanfaatkan sastra sebagai sarana pembentukan pribadi anak, justru melecehkan sastra. Di sekolah-sekolah menengah sastra hanya dijadikan penunjang pelajaran bahasa (ancilla linguistica), dan di Fakultas Sastra sendiri sastra dipasung sehingga kehilangan identitasnya. Di sinilah ironisnya! Fakultas sastra bukan membentuk kritikus sastra yang andal, melainkan menghancurkan kepekaan murid akan sastra.
Keinginan banyak pakar pendidikan untuk menghidupkan kembali pelajaran budi pekerti di sekolah-sekolah dengan memanfaatkan cerita rakyat sebagai bahannya adalah langkah surut. Pelajaran semacam itu tidak sesuai dengan umur anak yang sudah membutuhkan pelajaran yang merangsang berpikir. Cerita rakyat adalah cerita pengantar tidur yang dikisahkan untuk mempererat ikatan emosional anak dan orang tuanya. Dari cerita pengantar tidur itulah motivasi anak akan sastra harus dibangkitkan lewat pelajaran sastra, bukannya malah ditindas.


DAFTAR PUSTAKA

Barthes, Roland. "The Death of the Author" dalam Philip Rice & Patricia Waugh. 1989. Modern Literary Theory: A Reader. London: Edward Arnold.


Daiches, David. 1968. A Study of Literature For Readers and Critics. London: Andre Deutsch


Frye, Northrop. 1964. The Educated Imagination. Bloomington: Indiana University Press.


Hawkes, Terence. 1977. Structuralism & Semiotics. London: Methuen & Co. Ltd.


Jefferson, Ann and David Robey (Ed.). 1984. Modern Literary Theory. A Comparative Introduction. New Jersey: Barnes & Noble Books.

Ricoeur, Paul. 1976. Interpretation Theory and Surplus Meaning. Fort Worth: Texas Christian University Press.

Reagen, Charles E. & David Stewart (Ed.) 1978. The Philosophy of Paul Ricoeur: An Anthology of His Works. Boston: Beacon Press


Shukman, Ann. 1977. Literature and Semiotics: A Study of the Writing of Yu. M. Lotman. Oxford: North-Holland Publishing Company.


Sudiardja, A. 1983. "Manusia dalam Dimensi Simbolis" dalam

Sastrapratedja, M. (Ed.) Manusia Multi Dimensional: Sebuah
Renungan Filsafat. Jakarta: Gramedia.

Scholes, Robert. 1968. Elements of Fiction. New York: Oxford

University Press.

Scholes, Robert. 1974. Structuralism in Literature: An

Introduction. New Haven: Yale University Press.

Scholes, Robert and Robert Kellog "The Problem of Reality" dalam   Philip Stevick (Ed.). 1967. The Theory of the Novel. New York:

The Free Press.

Thompson, John B. (Ed.) 1981. Paul Ricoeur Hemenenutics and the

Human Sciences: Essays on Language, Action, and
Interpretation. Cambridge: Cambridge University Press.


Victor, Erlich. 1980. Russian Formalism: History-Doctrine. The

Hague: Mouton

Wiles, Katie. 1991. A Dictionary of Stylistics. London & New York:

Longman