Showing posts with label puisi. Show all posts
Showing posts with label puisi. Show all posts

Tuesday, May 29, 2018

YANG LEBIH DARIMU

Oleh: andri sugiana

Teruntuk kasihku nurfatimah


Yang lebih darimu
Yg sebenarnya tak penting bagiku
Hanya saja kau terus bertanya
Apa yg membuatku menaruh cinta

Yg lebih darimu
Bukanlah sebabTumbuhnya rasa
Asmara di hatiku
Pada hatimu

Yg lebih darimu
Meskipun bila itu tak ada
Tak akan membuat rasa ku berbeda
Kau tetaplah hawa ku

Yang lebih darimu
Tatapan mata sejuk mu
Sebening bulir embun di kelopak melati
Setajam taring belati

Yang lebih darimu
Lembut Bibir tipismu
Tidak hitam juga merah
Namun seringainya bagai rona mentari dikala pagi

Yang lebih darimu
Indah lesung pipimu
Serasi dengan bibirmu
Menambah cantik pemandangan wajahmu

Yang lebih darimu
Kelembutan sentuhmu
Cinta disetiap celah jari lentikmu
Dan kasih sayang di setiap garis telapak tangan mu

Yang lebih darimu
Butuh waktu yg harus ditunggu
Jika ku ucap satu persatu
Atau kutulis berbuku buku

Bukan yang lebih darimu
Alasanku di setiap doa
Agar rabb meridhoi
Jalanku berikhtiar untukmu
Semoga nanti saatnya tiba
Kukatakan qobiltu pada walimu

Bukanlah yang lebih darimu
Ghirahku memperbaiki diri
Tapi sabarmu ketika aku gelap
Dan tulusmu ketika aku terang
Juga ikhlasmu menerimaku apa adanya.
jakarta,29-05-2018.

Friday, September 15, 2017

puisi panggilan rindu 1-karya angga nugraha malik

PANGGILAN RINDU 1 
oleh: angga nugraha malik


Iya..
Inilah panggilan rindu..
Menyayat waktu dan mengikis ruang..
Dan terkadang memaksakan kehendak..
Iya..
Inilah panggilan rindu..
Suplemen penambah kasih sayang..
Namun terkadang berawal dari asupan nafsu..
Iya..
Inilah panggilan rindu..
Menyisir ke dalam jiwa..
Bahkan terkadang menggunting ketenangan..
Aku, engkau, kita..
Tak peduli dia dan mereka..
Mulailah menata maaf..
Lalu buanglah sisa-sisa kehinaan..

Garut,12 juli 2016

puisi Sebelas tiga puluh oleh angga nugraha malik

Sebelas tiga puluh
oleh: angga nugraha malik
Foto Angga Nugraha Malik.
Sebelas tiga puluh..
Bermandikan surya di sekujur tubuh..
Melangkah penuh yakin di tengah keraguan..
Mendaki penuh harap di tengah kebingungan..
Inilah langkah kita..
Bernyanyikan desiran pasir di tengah kemarau..
Inilah dakian kita..
Bersambutkan rimbunan ilalang di tengah angin mengguruh..
Gemercik air menggigit daun telinga..
Menggaruk rasa dahaga..
Menahan perjalanan yang tengah berkata..
Sejenak terhenti tergoda rayuannya..
Nyanyian pasir pendingin telinga..
Tarian ilalang pencerah mata..
Berhiaskan gemercik air di tengah lukisan surya..
Berpadu menjadi siluet penutup cerita..
garut,13 september 2017

profil singkat pengarang:
angga nugraha malik, pemuda berkelahiran garut,29 April 1998 ini merupakan seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi swasta di garut, walaupun bukan berkecimpung khusus di bidang sastra, namun kegemarannya akan sastra menghasilkan beberapa karya berupa puisi yg cukup unik dan kritis, beberapa di antaranya telah di publikasikan di sangsenimankata.blogspot.com
facebook:https: www.facebook.com/angga.nugrahamalik.7

Monday, August 21, 2017

puisi panggilan rindu 2-karya angga nugraha malik

PANGGILAN RINDU 2

oleh: angga nugraha malik







Lagi-lagi panggilan rindu

Kaukikis ruang dengan sekehendakmu

Kausayat keutuhan waktu
Kaurusak keteguhan menjadi tak menentu

Tak peduli endorfin dan oksitosin
Tak peduli serotonin dan dopamin

Kaubuat mereka tak karuan
Bercampur aduklah perasaan

garut,18 agustus 2017


Saturday, May 13, 2017

puisi HUJAN-RIANY

HUJAN
Oleh: Riany

kau terlelap, bersama rerimbun dini hari
sekerlip mata, mengintipmu dari celah
pulas tidurmu, endapkan segala lelah
hujan jatuh, menderu-deru di atap
dingin, dingin, namun tak lunturkan sebua ingatan

duniamaya,13-05-17

facebook: https://www.facebook.com/canna.indica.5?fref=nf

Friday, May 12, 2017

puisi DUNIA PADA SEUNTAI KATA karya andri sugiana

dunia pada seuntai kata



oleh; Andri sugina
------------------

pada seuntai kata
aku meneguk nikmat 
dari dunia yang ku temukan
antara ruang dan waktu


pada seuntai kata
aku adalah dewa
tak punya rasa butuh yg memaksa
tak ada rasa ingin yg menyiksa


pada seuntai kata
rasanya aku ingin menetap saja
tak mau kembali pada alam bising yg memekakkan telinga.


luar batang, 03-05-17


e-mail: andrialmunzhuly@gmail.com
facebook: https://www.facebook.com/izha.andri

Wednesday, January 11, 2017

puisi resah awan kelabu oleh andri sugiana

RESAH AWAN KELABU
oleh: andri sugiana 


Resahku
Bagai perjalanan
Sang awan kelabu
Yang menusuri langit
Meninggalkan jejak langkah yang ragu

Hingga tiba di suatu langit
Ia turunkan hujan
Namun tak bisa memastikan
Airnya sembuhkan dahaga pohon
Mengalir di bawa pergi sungai

Ataukah membawa kemalangan
Menenggelamkan pohon dalam genangan hujan

Kedung halang, 08-01-2017

Tuesday, July 12, 2016

Rindu Hentak Kaki – oleh Nurul Assyifa Wardana

judul: Rindu Hentak Kaki 
 oleh: Nurul Assyifa Wardana
Rindu
Nyanyian sang burung
Rindu
Hentak kaki berlari
Terinjak tanah sepatu
Menuju alam riang sekolah
Bunyi kotak pensil
buku botol minum
saling bertemu dalam luasnya
ruang tasku
rindu akan segala
rindu akan pergi
ingin temu dalam ruang hati riang
karena kurindu akan indahnya sekolahku

Rindu Hentak Kaki – oleh Nurul Assyifa Wardana
Cirebon, Jawa Barat
fb: Nurul Assyifa Wardana

Monday, May 16, 2016

Gurindam 12- Raja Ali Haji


GURINDAM DUA BELAS
karya: Raja Ali Haji
Satu
Ini Gurindam pasal yang pertama:
Barang siapa tiada memegang agama,
Sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.
Barang siapa mengenal yang empat,
Maka ia itulah orang yang ma’rifat
Barang siapa mengenal Allah,
Suruh dan tegahnya tiada ia menyalah.
Barang siapa mengenal diri,
Maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri.
Barang siapa mengenal dunia,
Tahulah ia barang yang teperdaya.
Barang siapa mengenal akhirat,
Tahulah ia dunia mudarat.
Dua
Ini Gurindam pasal yang kedua:
Barang siapa mengenal yang tersebut,
Tahulah ia makna takut.
Barang siapa meninggalkan sembahyang,
Seperti rumah tiada bertiang.
Barang siapa meninggalkan puasa,
Tidaklah mendapat dua termasa.
Barang siapa meninggalkan zakat,
Tiadalah hartanya beroleh berkat.
Barang siapa meninggalkan haji,
Tiadalah ia menyempurnakan janji.
Tiga
Ini Gurindam pasal yang ketiga:
Apabila terpelihara mata,
Sedikitlah cita-cita.
Apabila terpelihara kuping,
Khabar yang jahat tiadaiah damping.
Apabila terpelihara lidah,
Niscaya dapat daripadanya paedah.
Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan,
Daripada segala berat dan ringan.
Apabila perut terlalu penuh,
Keluarlah fi’il yang tiada senonoh.
Anggota tengah hendaklah ingat,
Di situlah banyak orang yang hilang semangat
Hendaklah peliharakan kaki,
Daripada berjaian yang membawa rugi.
Empat
Ini Gurindam pasal yang keempat:
Hati itu kerajaan di daiam tubuh,
Jikalau zalim segala anggotapun rubuh.
Apabila dengki sudah bertanah,
Datanglah daripadanya beberapa anak panah.
Mengumpat dan memuji hendaklah pikir,
Di situlah banyak orang yang tergelincir.
Pekerjaan marah jangan dibela,
Nanti hilang akal di kepala.
Jika sedikitpun berbuat bohong,
Boleh diumpamakan mulutnya itu pekung.
Tanda orang yang amat celaka,
Aib dirinya tiada ia sangka.
Bakhil jangan diberi singgah,
Itulah perampok yang amat gagah.
Barang siapa yang sudah besar,
Janganlah kelakuannya membuat kasar.
Barang siapa perkataan kotor,
Mulutnya itu umpama ketor.
Di mana tahu salah diri,
Jika tidak orang lain yang berperi.
Lima
Ini Gurindam pasal yang kelima:
Jika hendak mengenai orang berbangsa,
Lihat kepada budi dan bahasa,
Jika hendak mengenal orang yang berbahagia,
Sangat memeliharakan yang sia-sia.
Jika hendak mengenal orang mulia,
Lihatlah kepada kelakuan dia.
Jika hendak mengenal orang yang berilmu,
Bertanya dan belajar tiadalah jemu.
Jika hendak mengenal orang yang berakal,
Di dalam dunia mengambil bekal.
Jika hendak mengenal orang yang baik perangai,
Lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai.
Enam
Ini Gurindam pasal yang keenam:
Cahari olehmu akan sahabat,
Yang boleh dijadikan obat.
Cahari olehmu akan guru,
Yang boleh tahukan tiap seteru.
Cahari olehmu akan isteri,
Yang boleh dimenyerahkan diri.
Cahari olehmu akan kawan,
Pilih segala orang yang setiawan.
Cahari olehmu akan ‘abdi,
Yang ada baik sedikit budi,
Tujuh
Ini Gurindam pasal yang ketujuh:
Apabila banyak berkata-kata,
Di situlah jalan masuk dusta.
Apabila banyak berlebih-lebihan suka,
Itulah landa hampirkan duka.
Apabila kita kurang siasat,
Itulah tanda pekerjaan hendak sesat.
Apabila anak tidak dilatih,
Jika besar bapanya letih.
Apabila banyak mencela orang,
Itulah tanda dirinya kurang.
Apabila orang yang banyak tidur,
Sia-sia sahajalah umur.
Apabila mendengar akan khabar,
Menerimanya itu hendaklah sabar.
Apabila menengar akan aduan,
Membicarakannya itu hendaklah cemburuan.
Apabila perkataan yang lemah-lembut,
Lekaslah segala orang mengikut.
Apabila perkataan yang amat kasar,
Lekaslah orang sekalian gusar.
Apabila pekerjaan yang amat benar,
Tidak boleh orang berbuat honar.
Delapan
Ini Gurindam pasal yang kedelapan:
Barang siapa khianat akan dirinya,
Apalagi kepada lainnya.
Kepada dirinya ia aniaya,
Orang itu jangan engkau percaya.
Lidah yang suka membenarkan dirinya,
Daripada yang lain dapat kesalahannya.
Daripada memuji diri hendaklah sabar,
Biar dan pada orang datangnya khabar.
Orang yang suka menampakkan jasa,
Setengah daripada syirik mengaku kuasa.
Kejahatan diri sembunyikan,
Kebaikan diri diamkan.
Keaiban orang jangan dibuka,
Keaiban diri hendaklah sangka.
Sembilan
Ini Gurindam pasal yang kesembilan:
Tahu pekerjaan tak baik, tetapi dikerjakan,
Bukannya manusia yaituiah syaitan.
Kejahatan seorang perempuan tua,
Itulah iblis punya penggawa.
Kepada segaia hamba-hamba raja,
Di situlah syaitan tempatnya manja.
Kebanyakan orang yang muda-muda,
Di situlah syaitan tempat bergoda.
Perkumpulan laki-laki dengan perempuan,
Di situlah syaitan punya jamuan.
Adapun orang tua yang hemat,
Syaitan tak suka membuat sahabat
Jika orang muda kuat berguru,
Dengan syaitan jadi berseteru.
Sepuluh
Ini Gurindam pasal yang kesepuluh:
Dengan bapa jangan durhaka,
Supaya Allah tidak murka.
Dengan ibu hendaklah hormat,
Supaya badan dapat selamat.
Dengan anak janganlah lalai,
Supaya boleh naik ke tengah balai.
Dengan kawan hendaklah adil,
Supaya tangannya jadi kapil.
Sebelas
Ini Gurindam pasal yang kesebelas:
Hendaklah berjasa,
Kepada yang sebangsa.
Hendaklah jadi kepala,
Buang perangai yang cela.
Hendaklah memegang amanat,
Buanglah khianat.
Hendak marah,
Dahulukan hujjah.
Hendak dimalui,
Jangan memalui.
Hendak ramai,
Murahkan perangai.
Duabelas
Ini Gurindam pasal yang kedua belas:
Raja mufakat dengan menteri,
Seperti kebun berpagarkan duri.
Betul hati kepada raja,
Tanda jadi sebarang kerja.
Hukum ‘adil atas rakyat,
Tanda raja beroleh ‘inayat.
Kasihkan orang yang berilmu,
Tanda rahmat atas dirimu.
Hormat akan orang yang pandai,
Tanda mengenal kasa dan cindai.
Ingatkan dirinya mati,
Itulah asal berbuat bakti.
Akhirat itu terlalu nyata,
Kepada hati yang tidak buta.
Tamatlah Gurindam yang duabelas pasal yaitu karangan kita Raja Ali Haji pada tahun Hijrah Nabi kita seribu dua ratus enam puluh tiga likur hari bulan Rajab Selasa jam pukul lima, Negeri Riau, Pulau Penyengat.
Keterangan :

Bakhil ; kikir atau pelit
Balai : rumah tempat menanti raja (di antara kediaman raja-raja)
Bachri : hal mengenai lautan (luas)
Berperi : berkata-kata
Cindai : kain sutra yang berbunga-bunga
Damping : dekat, karib, atau akrab
Fi’il : tingkah laku, perbuatan
Hujjah : tanda, bukti, atau alasan
Inayat : pertolongan atau bantuan
Kafill : majikan atau orang yang menanggung kerja
Kasa : kain putih yang halus
Ketor : tempat ludah (ketika makan sirih), peludahan
Ma’rifat : tingkat penyerahan diri kepada Tuhan yang setahap demi setahap sampai pada tingkat keyakinan           yang kuat
Menyalah : melakukan kesalahan
Mudarat : sesuatu yang tidak menguntungkan atau tidak berguna
Pekong (pekung) penyakit kulit yang berbau busuk
Penggawa : kepala pasukan, kepala desa
Perangai : sifat batin manusia yang mempengaruhi segenap pikiran dan perbuatan
Senonoh : perkataan, perbuatan, atau penampilan yang tidak patut (tidak sopan)
Tegah : menghentikan
Teperdaya : tertipu
Termasa : tamasya

Monday, April 25, 2016

Takdir Cintaku – oleh Yanti Prawatie

Takdir Cintaku – oleh Yanti Prawatie


Kuikuti sudah langkah cinta ini
Menelusuri lorong kelam tak bertepi
Jiwa merana
Hati terluka
Raga tersiksa
Mana kala cinta dusta yang kutrima.
Mengapa..?
Murni cintaku
Hangat kasih sayangku
Ternoda dengan titik hitam tabir kepalsuan.
Berjalan melewati poros waktu
Ku terus menapaki Takdir Cintaku
(Akankah ada secercah sinar dibalik pekat nya kegelapan).
Takdir Cintaku – oleh Yanti Prawatie
Pontianak Kalbar
terima kasih telah mengunjungi blog kami,jangan lupa tinggalkan komentarnya...

Wednesday, March 2, 2016

puisi Sebatas Rindu – oleh Septina Aulina Fransisca

Sebatas Rindu
oleh: Septina Aulina Fransisca
Rasa sepi berselimut rindu
Hati yang rapuh dibalik gelak tawa yang bahagiaRindu ini muncul begitu saja
Membuatku terhanyut dalam lamunan yang tiada arti

Hati ini memaksaku untuk masuk kedalam angan tentangmu
Pipiku pun mulai merasakan air mata yang menetes
Selemah inikah hatiku?
Dikalahkan oleh sebuah rasa yang seharusnya sudah ku buang jauh
Sepenggal hati yang tak bisa menahan rindu
Kemana rasa ini harus kubuang?
Ku telusuri lagi hati ku, dan terus bertanya
Adakah kau merasakan hal yang sama?
Atau ini hanya sebatas rindu yang sepihak?
Sebatas Rindu – oleh Septina Aulina Fransisca
Tangerang Selatan
https//twitter.com/chikaahh

Tuesday, February 16, 2016

puisi-puisi karya gus mus (KH. A. Mustofa Bisri)

 KH. A. Mustofa Bisri atau lebih sering dipanggil dengan Gus Mus (lahir di RembangJawa Tengah10 Agustus 1944; umur 69 tahun) adalah pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuh Tholibin, Leteh, Rembang dan menjadi Rais Syuriah PBNU. Ia adalah salah seorang pendeklarasi Partai Kebangkitan Bangsa dan sekaligus perancang logo PKB yang digunakan hingga kini.
Ia juga seorang penyair dan penulis kolom yang sangat dikenal di kalangan sastrawan. Disamping budayawan, dia juga dikenal sebagai penyair. Karya-karyanya yang telah diterbitkan, antara lain, Dasar-dasar Islam (terjemahan, Penerbit Abdillah Putra Kendal, 1401 H), Ensklopedi Ijma' (terjemahan bersama KH. M.A. Sahal Mahfudh, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1987), Nyamuk-Nyamuk Perkasa dan Awas, Manusia (gubahan cerita anak-anak, Gaya Favorit Press Jakarta, 1979), Kimiya-us Sa'aadah (terjemahan bahasa Jawa, Assegaf Surabaya), Syair Asmaul Husna (bahasa Jawa, Penerbit Al-Huda Temanggung), Ohoi, Kumpulan Puisi Balsem (Pustaka Firdaus, Jakarta, 1991,1994), Tadarus, Antalogi Puisi (Prima Pustaka Yogya, 1993), Mutiara-mutiara Benjol (Lembaga Studi Filsafat Islam Yogya, 1994), Rubaiyat Angin dan Rumput (Majalah Humor dan PT. Matra Media, Cetakan II, Jakarta, 1995), Pahlawan dan Tikus (kumpulan pusisi, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1996), Mahakiai Hasyim Asy'ari (terjemahan, Kurnia Kalam Semesta Yogya, 1996), Metode Tasawuf Al-Ghazali (tejemahan dan komentar, Pelita Dunia Surabaya, 1996), Saleh Ritual Saleh Sosial (Mizan, Bandung, Cetakan II, September 1995), Pesan Islam Sehari-hari (Risalah Gusti, Surabaya, 1997), Al-Muna (Syair Asmaul Husna, Bahasa Jawa, Yayasan Pendidikan Al-Ibriz, Rembang, 1997). dan juga Fikih Keseharian (Yayasan Pendidikan Al-Ibriz, Rembang, bersama Penerbit Al-Miftah, Surabaya, Juli 1997).[1]


Berikut puisi-puisi daru Gus Mus:


Kau Ini Bagaimana Atau Aku Harus Bagaimana”


Kau ini bagaimana


Kau bilang aku merdeka, kau memilihkan untukku segalanya


Kau suruh aku berpikir, aku berpikir kau tuduh aku kapir




Aku harus bagaimana


Kau bilang bergeraklah, aku bergerak kau curigai

Kau bilang jangan banyak tingkah, aku diam saja kau waspadai
Kau ini bagaimana


Kau suruh aku memegang prinsip, aku memegang prinsip kau tuduh aku kaku


Kau suruh aku toleran, aku toleran kau bilang aku plin-plan
Aku harus bagaimana


Aku kau suruh maju, aku mau maju kau selimpung kakiku


Kau suruh aku bekerja, aku bekerja kau ganggu aku
Kau ini bagaimana


Kau suruh aku taqwa, khotbah keagamaanmu membuatku sakit jiwa


Kau suruh aku mengikutimu, langkahmu tak jelas arahnya
Aku harus bagaimana


Aku kau suruh menghormati hukum, kebijaksanaanmu menyepelekannya


Aku kau suruh berdisiplin, kau menyontohkan yang lain
Kau ini bagaimana


Kau bilang Tuhan sangat dekat, kau sendiri memanggil-manggilNya dengan pengeras suara setiap saat


Kau bilang kau suka damai, kau ajak aku setiap hari bertikai
Aku harus bagaimana


Aku kau suruh membangun, aku membangun kau merusakkannya


Aku kau suruh menabung, aku menabung kau menghabiskannya
Kau ini bagaimana

Kau suruh aku menggarap sawah,sawahku kau tanami rumah-rumah


Kau bilang aku harus punya rumah, aku punya rumah kau meratakannya dengan tanah
Aku harus bagaimana


Aku kau larang berjudi, permainan spekulasimu menjadi-jadi


Aku kau suruh bertanggung jawab, kau sendiri terus berucap Wallahu A’lam Bisshowab
Kau ini bagaimana


Kau suruh aku jujur, aku jujur kau tipu aku


Kau suruh aku sabar, aku sabar kau injak tengkukku
Aku harus bagaimana


Aku kau suruh memilihmu sebagai wakilku, sudah ku pilih kau bertindak sendiri semaumu


Kau bilang kau selalu memikirkanku, aku sapa saja kau merasa terganggu
Kau ini bagaimana


Kau bilang bicaralah, aku bicara kau bilang aku ceriwis


Kau bilang jangan banyak bicara, aku bungkam kau tuduh aku apatis
Aku harus bagaimana


Kau bilang kritiklah, aku kritik kau marah


Kau bilang carikan alternatifnya, aku kasih alternatif kau bilang jangan mendikte saja
Kau ini bagaimana


Aku bilang terserah kau, kau tidak mau


Aku bilang terserah kita, kau tak suka

Aku bilang terserah aku, kau memakiku
Kau ini bagaimana


Atau aku harus bagaimana

-1987-



Dalam Kereta
Bukanya aneh bukannya dalam kereta aku kembali teringat
Apakah karena gemuruh yang melintas disini

Aku kembali teringat perjalanan kita yang singkat bukan karena jarak yang dekat
Tapi jarak terlipat oleh keasikan kita yang nikmat

Tidak seperti biasa, kita begitu menjadi kanak-kanak 
Bahkan kadang-kadang norak 

Tak terganggu stasiun berteriak-teriak dan suara kereta yang bergerak-gerak
Bukannya aneh kita menikmati kesendirian dalam keramaian

Stasiun demi stasiun terlewati tanpa kita sadari
Sampai kita kembali menjadi diri kita lagi

Kau dimana sekarang sayang 
Lalu apa yang ada disini (dada) yang terus bergemuruh ini


KALAU KAU SIBUK KAPAN KAU SEMPAT


Kalau kau sibuk berteori saja

Kapan kau sempat menikmati mempraktekkan teori?
Kalau kau sibuk menikmati praktek teori saja
Kapan kau sempat memanfaatkannya?
Kalau kau sibuk mencari penghidupan saja
Kapan kau sempat menikmati hidup?
Kalau kau sibuk menikmati hidup saja
Kapan kau hidup?


Kalau kau sibuk dengan kursimu saja
Kapan kau sempat memikirkan pantatmu?
Kalau kau sibuk memikirkan pantatmu saja
Kapan kau menyadari joroknya?
Kalau kau sibuk membodohi orang saja
Kapan kau sempat memanfaatkan kepandaianmu?
Kalau kau sibuk memanfaatkan kepandaianmu saja
Kapan orang lain memanfaatkannya?
Kalau kau sibuk pamer kepintaran saja
Kapan kau sempat membuktikan kepintaranmu?
Kalau kau sibuk membuktikan kepintaranmu saja
Kapan kau pintar?


Kalau kau sibuk mencela orang lain saja
Kapan kau sempat membuktikan cela-celanya?
Kalau kau sibuk membuktikan cela orang saja
Kapan kau menyadari celamu sendri?
Kalau kau sibuk bertikai saja
Kapan kau sempat merenungi sebab pertkaian?
Kalau kau sibuk merenungi sebab pertikaian saja
Kapan kau akan menyadari sia-sianya?


Kalau kau sibuk bermain cinta saja
Kapan kau sempat merenungi arti cinta?
Kalau kau sibuk merenung arti cinta saja
Kapan kau bercinta?


Kalau kau sibuk berkutbah saja
Kapan kau sempat menyadari kebijakan kutbah?
Kalau kau sibuk dengan kebijakan kutbah saja
Kapan kau akan mengamalkannya?
Kalau kau sibuk berdzikir saja
Kapan kau sempat menyadari keagungan yang kau dzikiri?
Kalau kau sibuk dengan keagungan yang kau dzikiri saja
Kapan kau kan mengenalnya?
Kalau kau sibuk berbicara saja
Kapan kau sempat memikirkan bicaramu?
Kalau kau sibuk memikirkan bicaramu saja
Kapan kau mengerti arti bicara?
Kalau kau sibuk mendendangkan puisi saja
Kapan kau sempat berpuisi?
Kalau kau sibuk berpuisi saja
Kapan kau akan memuisi?
(Kalau kau sibuk dengan kulit saja
Kapan kau sempat menyentuh isinya?


Kalau kau sibuk menyentuh isinya saja


Kapan kau sampai intinya?

Kalau kau sibuk dengan intinya saja
Kapan kau memakrifati nya-nya?
Kalau kau sibuk memakrifati nya-nya saja
Kapan kau bersatu denganNya?)

“Kalau kau sibuk bertanya saja


Kapan kau mendengar jawaban!”



Aku Merindukanmu, O, Muhammadku




Aku merindukanmu, o, Muhammadku 
Sepanjang jalan kulihat wajah-wajah yang kalah 
Menatap mataku yang tak berdaya 
Sementara tangan-tangan perkasa
Terus mempermainkan kelemahan 
Airmataku pun mengalir mengikuti panjang jalan 
Mencari-cari tangan 
Lembut-wibawamu 


Dari dada-dada tipis papan 
Terus kudengar suara serutan 
Derita mengiris berkepanjangan 
Dan kepongahan tingkah-meningkah 
Telingaku pun kutelengkan 
Berharap sesekali mendengar 
Merdu-menghibur suaramu 


Aku merindukanmu, o. Muhammadku 



Ribuan tangan gurita keserakahan 
Menjulur-julur kesana kemari 
Mencari mangsa memakan korban 
Melilit bumi meretas harapan 
Aku pun dengan sisa-sisa suaraku 
Mencoba memanggil-manggilmu 


O, Muhammadku, O, Muhammadku! 



Dimana-mana sesama saudara 
Saling cakar berebut benar 
Sambil terus berbuat kesalahan 
Qur'an dan sabdamu hanyalah kendaraan 
Masing-masing mereka yang berkepentingan 
Aku pun meninggalkan mereka 
Mencoba mencarimu dalam sepi rinduku 


Aku merindukanmu, O, Muhammadku 



Sekian banyak Abu jahal Abu Lahab 
Menitis ke sekian banyak umatmu 


O, Muhammadku - selawat dan salam bagimu - 



bagaimana melawan gelombang kebodohan 
Dan kecongkaan yang telah tergayakan 
Bagaimana memerangi 
Umat sendiri? O, Muhammadku 


Aku merindukanmu, o, Muhammadku 



Aku sungguh merindukanmu



Untuk ali jabbar dan usman awam


Di Basrah
Inilah basrah... 

tanah batu putih.. 
tak pernah berhenti memerah..
tak pernah lelah dijarah sejarah..


Inilah basrah...
pejuang badar bernama utbah 
membangun kota ini atas perintah umar al faruq sang khalifah
Entah mantra apa yg dibaca ketika meletakkan batu pertama
Sehingga kemudian setiap jengkal tanahnya..
Tak henti-hentinya merekam nuansa seribu satu cerita


Basrah yg marah.. basrah yg merah.. 
basrah yg ramah.. basrah yg pasrah..


Kota yg terus membatasi penduduknya 
dengan menambah jumlah syuhada..


Inilah basrah.. 
disini ali dan aisyah.. menantu dan istri nabi
mengumpulkan dendam amarah.. 
ghirah terhadap keyakinan kebenaran ..
setelah mengantarkan az zubair dan al haq, 
hawari-hawari nabi ke taman kedamaian abadi yg dijanjikan


Inilah basrah..
Di sini abu musa dan abul hasan 
mematrikan nama al as’ari pada lempeng sejarah
Inilah basrah.. 
di sini berbaur seribu satu aliran
Di sini sunnah, syiah dan mu’tazilah, 
masing-masing bisa menjadi bid’ah
Di sini berhala pemutlakkan pendapat terkapar oleh kekuasaan fitrah ..


Inilah basrah.. mimbar khalwat al hasan al bashari dan rabi’ah ..
Inilah basrah.. tempat bercanda abu nuas dan walibah ..
Inilah basrah.. tempat al musayyab dan syair2nya 
menghidupkan mirwat yang wah..


Inikah basrah... 
tangan takdir penuh misteri 
menuntunku.. tamu tak diundang ini kemari
Aku menahan nafas... 
Inikah basrah...


Inilah basrah.. setelah perang irak iran
Korma-korma yg masih pucat melambai ramah..
Para pemuda, gadis, dan bocah 
menyanyi dan menari tahnyiah
untuk penyair mirbat yg berpesta merayakan
entah kemenangan apa


Di sini jumat siang 25 jumadil ula
Sehabis menelan dan memuntahkan puisi-puisi kebanggaan
Ratusan penyair dengan garang berhamburan menyerang kambing-kambing guling..
Ikan-ikan shatul arab yg dipanggang kering
Nasi samin dan roti segede-gede piring.. 
anggur dan korma kemurahan basrah..
Aku dilepas takdir ke tengah-tengah mereka..
mengeroyok meja makan yg panjang.. 
menelan puisi dan saji ..
sambil kuperhatikan wajah-wajah para penyair,.
Kalau-kalau…, ah… 
sampai walibah dan abu nawas pun tak tampak ada..


Inilah basrah… 
bersama para penyair yg lapar.. kutelan semuanya..
Bersama-sama menghabiskan apa yang ada.. 
sampai mentari ditelan bumi..
Dan aku pun tertelan habis-habisan..
Basrah mulai gelap… 
barangkali adzan maghrib sudah dikumandangkan..
tapi tampaknya tak satupun yg mendengarnya..
Kami kekenyangan semua..


Dan aku, sambil bersendawa,
merogoh saku mencari-cari rokokku..
terasa kertas-kertas lusuh sanguku dari rumah..
puisi-puisi sufistik untuk al bashari dan rabi’ah..
Tiba-tiba.. aku ingin muntah..
Kulihat kedua zahid basrah itu.. di sudut sana sedang berbuka
hanya dengan air mata..


Aku ingin lari bersembunyi tapi kemana..
Tuhan.., berilah aku setetes saja air mata mereka.. 
untuk mencairkan batu di dadaku..
Basrah.. tolong, jangan rekam kehadiranku..


Basrah, 1410 H