menu pilihan

Showing posts with label cerita pendek. Show all posts
Showing posts with label cerita pendek. Show all posts

Wednesday, August 23, 2017

Pengertian CERPEN beserta contohnya

CERPEN

Cerpen adalah karangan pendek yang umumnya mengisahkan masalah sederhana.
Ciri-ciri cerpen
Ø  Panjang cerita berkisar antara 3 s.d. 10 halaman/kurang dari 10.000 kata
Ø  Cerita selesai dibaca dalam sekali duduk
Ø  Cerita hanya memiliki satu insiden
Ø  Konflik yang terjadi tidak menimbulkan perubahan nasib tokohnya
Ø  Cerita hanya memilikisatu alur
Ø  Perwatakan digambarkan secara singkat.
Struktur cepen dibentuk oleh unsur ekstrinsik dan intrinsik
a.      Unsur ekstrnsik
ü  Latarbelakang pengarang, seperti pendidikan, kondisi keluarga, jenis kelamin, dan usia
ü  Waktu dan tempat penulisan karya
ü  Judul karya
b.      Unsur intrinsik
ü  Tema, adalah pokok pikiran yang menjiwai keseluruhan cerita
ü  Alur (plot),  merupakan pola pengembangan cerita yang terbentuk oleh hubungan sebab akibat
Ø  Alur dibedakan atas:
·         Alur maju
·         Alur mundur
·         Alur campuran
ü  Latar/setting, merupakan tempat, waktu, dan suasana yang digunakan dalam suatu                         cerita
ü  Penokohan, adalah cara pengarang menggambarkan dan mengembangkan karakter                           tokoh-tokoh dalam cerita
Ø  Penokohandibedakan atas,
*      Tokoh sentral
·         Tokoh protagonis, merupakan tokoh berkarakter baik
·         Tokoh antagonis, merupakan tokoh berkarakter jahat
*      Tokoh bawahan
·         Tokoh tritagonis, merupakan tokoh yang paling dekat/sering muncul                         dengan tokoh sentral karakter tergantung cerita
·         Tokoh pembantu, merupakan tokoh pendukung/tambahan
·         Tokoh lataran/figuran, merupakan pelengkap jalannya cerita.
ü  Sudut pandang (point of view),  adalah posisi pengarang dalam bercerita
Ø  Sudut pandang dibedakan atas:
·         Sudut pandang orang pertama, yaitu posisi pengarang berada dalam                           cerita, ditandai dengan kata aku/saya.
·         Sudut pandang orang ketiga, yaitu posisi pengarang bearada di luar                            cerita, ditandai dengan nama tokoh/peran.
@salah satu sumber menyebutkan bahwa jenjang SMA hanya dipelajari dua kategori sudut pandang. Dari berbagai referensi buku bahasa Indonesia sudut padang tergolong ke dalam beberapa jenis tergantung pengarang buku tersebut, namun hingga sekarang belum adanya patokan/rujukan standar
ü  Amanat, merupakan pesan berupa nasehat yang hendak disampaikan pengarang                              kepada pembaca melalui karya itu.
Nilai-nilai dalam cerpen
                                  
ü  Nilai-nilai budaya berkaitan dengan pemikiran, kebiasaan, dan hasil karya cipta manusia
ü  Nilai-nilai sosial berkaitan dengan tata laku hubungan antara sesama manusia (kemasyarakatan)
ü  Nilai-nilai moral berkaitan dengan perbuatan baik dan buruk yang menjadi dasar kehidupan                                     manusia dan masyarakatnya. 

CONTOH CERPEN: 

komedi si bugil & spanduk lusuh

Karya-Ahmad Tohari

Kebanyakan anak muda di kampung kami gemar akan orkes dangdut. Namun tidak ada yang seperti Sontokliwon. Anak muda yang satu ini bukan gemar, dia maniak. Maka Sonto selalu di sana bila ada pentas. Sonto akan berdiri paling depan. Saat yang paling ditunggu adalah ketika penyanyi berdiri di tubir panggung, agak jongkok, dan menawarkan tangan untuk disalami penonton. Kepuasan Sonto tercapai ketika dia menengadah sambil meraih tangan penyanyi. Pada saat seperti itu betis penyanyi hampir menyentuh wajah Sonto. Demikian, Sonto pernah bilang tubuh perempuan adalah keindahan ciptaan Tuhan. Jadi, tidak salah memandangi ke semua bagiannya. Itu pendapat Sonto.
Kemarin ketika sedang memperbaiki motornya Sonto diuji: benarkah tubuh perempuan selalu menarik dipandang karena ia ciptaan Tuhan? Pagi itu ada perempuan terlantar lewat. Dia muda dan hampir bugil. Tetapi wajahnya tanpa citra jiwa. Tatapan matanya kosong. Semua pejalan kaki yang berpapasan dengan dia menunduk atau membuang muka. Sonto juga menatapnya sepintas tetapi kemudian membuang muka. Ternyata Sonto  tidak setia dengan pendapatnya sendiri selama ini. Entahlah, Sonto merasa tidak nyaman ketika melihat tubuh bugil perempuan terlantar; beda ketika dia melihat tubuh penyanyi dangdut.
Si Bugil terus ke utara, melenggang bebas. Dia tak mengerti orang kampung kami menghendaki dia menutup satu bagian tubuhnya dengan telapak tangan. Dia malah menggunakan tangan untuk memunguti botol plastik di pinggir jalan, lalu membuangnya lagi sambil tertawa. Agak di depan sana perempuan terlantar itu berhenti. Mungkin karena angin dari timur tiba-tiba bertiup lebih kencang. Dahan pohon kenari di dekatnya bergoyang. Sebuah spanduk yang sudah lepas sebelah talinya ikut berayun dan terjurai hampir mencapai tanah. Orang kampung kami tahu spaduk itu sudah berbulan-bulan demikian. Tak ada orang yang mau menyentuh. Semua merasa segan terhadap pemasang spanduk itu, sebuah organisasi politik yang punya barisan pemuda berseragam loreng.
Tentu hanya orang seperti Si Bugil yang tidak tahu apa-apa. Dia tidak tahu siapa pemasang spanduk itu. Dia juga tidak tahu beda pakaian loreng dan pakaian biasa. Maka Si Bugil tidak hanya berani menyentuh spanduk lusuh itu, tetapi bahkan menariknya hingga putus menjadi dua bagian. Satu bagian yang ada di tangan Si Bugil sepanjang dua meteran dan tertera lambang organisasi politik itu. Sesungguhnya lambang itu sudah baur. Namun orang kampung kami pasti tahu lambang organisasi apa gambar itu.
Di kampung kami para perempuan dan gadis menyukai iklan dengan model artis cantik yang tubuhnya hanya bertutup lilitan handuk. Kakinya hampir terbuka penuh. Di atas, dadanya juga setengah terbuka. Syahdan, apakah Si Bugil yang terlantar itu juga ingin secantik model iklan? Apakah dia pernah mengalami suatu masa menjadi perempuan normal yang tentu ingin secantik artis? Seorang gadis kampung kami muncul. Maka dia menjadi saksi bahwa Si Bugil mungkin benar ingin seperti artis cantik dengan handuknya. Gadis kampung kali ini menyaksikan Si Bugil membalutkan potongan spanduk lusuh itu ke tubuh sendiri. Seperti model cantik dengan handuknya, tubuh Si Bugil terbalut dengan spanduk lusuh dari tengah paha naik sampai tengah dada. Di bagian perut Si Bugil ada gambar lambang organisasi politik.
Melihat ulah Si Bugil mata gadis kampung kami membulat dan menyala. Mulutnya terbuka dan kelihatan dia berhenti bernafas. Namun sesaat kemudian dia tergelak keras sambil menekan perut dengan kedua tangan, berbalik dan lari. Boleh jadi dia ingin memanggil teman-teman agar ikut menyaksikan pemandangan yang baginya amat mengesankan. Tetapi yang kemudian datang bukan hanya para gadis melainkan juga orang dewasa laki-laki dan perempuan, juga Sontokliwon. Sonto bahkan langsung mendekati Si Bugil di bawah pohon kenari. Mungkin karena orang-orang mengelilinginya, Si Bugil tak bergerak. Wajahnya tetap tanpa citra jiwa. Matanya yang hampa tak pernah menatap siapa pun.
Sonto yang kelihatan amat bersuka-cita, berjingkrak dengan gerakan semaunya. Dia seperti menahan kegembiraan yang siap meledak. Kedua tangan naik ke atas dengan acungan kedua ibu jari. Sonto berjoget irama dangdut.
“Ini baru bagus, benar-benar bagus, keren banget,” seru Sonto entah ditujukan kepada siapa. “Yang kemarin keluyuran berbugil sekarang sudah bertutup. Apa tidak keren? Iya, kan?”
Tak ada tanggapan. Orang-orang kampung kami membisu. Atau ada satu orang yang tersenyum samar. Semua orang diam dan menunggu. Mata mereka tertuju ke arah Si Bugil yang terus mematut-matut diri dengan potongan spanduk lusuh itu. Ada orang kampung kami yang jakunnya turun-naik. Menelan ludah. Kemudian, diawali dengan satu orang, warga kampung kami mulai berbalik mau meninggalkan tempat. Namun mereka berhenti dan menoleh. Ada motor menderu dan mendadak berhenti hanya setengah meter dari kaki Sonto. Seorang pemuda dengan helm cakil dan celana loreng terburu-buru memarkir motornya. Dia warga kampung kami juga.
“Ada apa ini?” tanya Si Cakil sedetik setelah melepas helmnya. Gerak dan langkahnya amat sesuai dengan celana loreng yang dipakai.
Mulut semua orang kampung kami diam belaka. Kecuali mulut Sonto yang cengar-cengir lalu bersuara rendah dan pelan. “Lah, Cakil sahabat kami, kamu bisa lihat sendiri, bukan?”
Seperti mendengar perintah kepala regunya, pemuda bercelana loreng itu patuh kepada Sonto. Matanya yang tajam kemudian mengarah lurus ke batang pohon kenari kira-kira tujuh langkah di depannya. Di sana Si Bugil masih bergerak mematut diri dan bersikap seperti tak ada siapa pun di sekelilingnya. Sementara orang-orang kampung kami menatap wajah Si Cakil dengan seksama. Wajah yang amat tegang dan merona tetapi seakan buntu. Tangan kanan Si Cakil mengepal seperti mau bertinju. Urat rahangnya menggumpal. Untung suasana yang tegang bisa dimentahkan oleh Sonto. Dia berjoget goyang dangdut dengan asyiknya tepat di belakang punggung Si Cakil.
“Brenti!” Teriak Si Cakil setelah berbalik badan. Wajahnya bertambah merah. “Ini bukan perkara main-main. Kalian jangan anggap enteng. Ini pelecehan terhadap organisasi kami. Siapa yang menyobek spanduk itu? Ayo, siapa?” Leher Si Cakil tegang. Matanya merah menyorot sekeliling.
“Lah, sahabat kami Cakil, sabarlah,” jawab Sonto pelan. “Dia sendiri yang menjambret spanduk itu untuk menutup tubuhnya. Itu bagus kan? Artinya, organisasimu telah menolong menutup aurat satu perempuan terlantar. Iya kan? Jangan tuduh kami. Di sini tidak ada orang yang peduli terhadap spanduk lusuh itu kecuali kamu.”
“Cukup! Aku tidak peduli. Yang jelas martabat organisasi kami sedang dipertaruhkan; simbol kami dijadikan penutup aurat perempuan gila. Kamu Sonto, ambil spanduk itu dari tubuh itu!” Perintah Si Cakil sambil berkacak pinggang. Lagi, sikap Si Cakil sesuai benar dengan celana lorengnya. Tetapi Sonto tetap tenang, sangat tenang.
“Walah-walah, Cakil sahabat kami, sampean ini bagaimana? Aku kamu suruh melepas spanduk itu dari tubuhnya? Menyuruh aku menelanjangi perempuan? Ya tidak lah. Kami tidak mau lagi melihat tubuh itu kembali telanjang. Lagi pula, mengapa bukan kamu sendiri? Spanduk lusuh itu milik organisasimu kan? Ayo, ambillah. Nah, kami akan menyaksikannya.”
Si Cakil mendesis-desis sambil berjalan menghentak-hentakkan kaki. Matanya selalu menghindar dari pohon kenari. Di sana Si Bugil sudah diam. Tetapi tadi dia tersenyum aneh ketika Sonto bergoyang joged di belakang Si Cakil. Barangkali joget Sonto memang amat buruk bahkan di mata orang yang telah hilang kesadarannya. Suasana terasa hambar dan bisu. Kemudian ada perempuan kampung kami yang pergi meninggalkan kerumunan di bawah pohon kenari. Dia berjalan cepat menuju halaman rumah sendiri lalu menarik selembar kain batik dari galah jemuran. Balik lagi ke bawah pohon kenari dan langsung mendekati Si Bugil. Ada irama keibuan keluar dari mulutnya. Lembut sekali.
“Sini, Nak. Sinik, Nak. Kamu pakai kain ini. Yang itu buruk, dilepas saja, ya?”
Semua orang menunggu. Dan semua orang melihat mata Si Bugil tidak bergerak. Ketika permintaan itu diulang, Si Bugil menoleh, tetapi sambil memiringkan badan pertanda menolak. O, perempuan kampung kami itu seorang penyabar dan sangat lembut. Maka dia ulangi lagi permintaannya.
“Pakai kain ini, Nak, nanti kamu akan cantik seperti pengantin baru yang pagi-pagi mandi keramas. Ayo, Nak, sini.”
Demi dahan-dahan kenari yang terus bergoyang ditiup angin dari timur, Si Bugil memberi tanggapan. Matanya yang semula mati tiba-tiba ada percik setitik cahaya jiwa. Ada senyum, senyum apa pun namanya. Kedua tangannya bergerak meraba tepian spanduk yang tergulung di bagian dada. Seperti anak kecil yang mau melepas semua pakaiannya, Si Bugil bergerak apa adanya. Spanduk lusuh mulai melonggar di dada dan kemudian nyaris jatuh. Orang-orang kampung kami menundukkan kepala. Si Cakil membalikkan badan sambil mendesis dan menghentakkan kaki. Hanya Sonto yang lain. Barangkali dia ingin mengembalikan pendapat bahwa tubuh perempuan adalah keindahan ciptaan Tuhan dan tentu boleh dipandang bagian-bagiannya. Tetapi harapan Sonto melihat keindahan itu gagal. Perempuan kampung kami lebih cepat bergerak menutup tubuh Si Bugil dengan kain batik yang dibawanya. Dan benar, Si Bugil tampak lebih pantas meski tidak secantik pengantin baru yang pagi-pagi harus mandi keramas.
 Perempuan kampung kami menarik keluar spanduk lusuh yang berlambang organisasi politik itu dari bawah kedua selangkang Si Bugil lalu menjulurkannya ke pada Si Cakil.
“Ambil ini. Kami, bahkan Si Bugil tidak membutuhkannya.”
Si Cakil hanya menatapnya dengan sudut mata, mendesis, lalu mengambil motornya, dan pergi. Orang-orang kampung kami bubar sambil membawa tawa masing-masing. Hanya Sonto yang tinggal. Ia bergoyang joget begitu asyik di hadapan Si Bugil yang entah mengapa kali ini dia bisa tersenyum. []


AHMAD TOHARI
Seorang novelis terkemuka. Menulis cerpen, novel, dan esai. Lahir di Banyumas, 13 Juni 1948. Dia telah menerbitkan paling tidak 13 karya, berupa novel dan kumpulan cerpen. Yang sangat terkenal tentu saja novel Ronggeng Dukuh Paruk. Novel ini telah diadaptasi ke dalam film. Karya-karyanya diterbitkan juga dalam berbagai bahasa seperti Jepang, Tionghoa, Belanda, Inggris, dan Jerman. Dia mendapat sejumlah penghargaan, di antaranya SEA Write Award, 1995. Kini tinggal di Banyumas, Jawa Tengah.

  sumber:

http://akfil88.blogspot.co.id/2015/01/materi-pembelajaran-kelas-xi-sma.html 
http://horison-online.com/cerpen/41-komedi-si-bugil-dan-spanduk-lusuh.html 

Wednesday, May 4, 2016

DISAAT DAKU TUA
karya: http://ceritaterbaik.blogspot.co.id/




Disaat daku tua, bukan lagi diriku yang dulu.
Maklumilah diriku, bersabarlah dalam menghadapiku.

Disaat daku menumpahkan kuah sayuran dibajuku,
Disaat daku tidak lagi mengingat cara mengikatkan tali sepatu.
Ingatlah saat-saat bagaimana daku mengajarimu, membimbimgmu untuk melakukannya.

Disaat saya dengan pikunnya mengulang terus menerus ucapan yang membosankanmu.
Bersabarlah mendengarkanku, jangan memotong ucapanku,
Dimasa kecilmu, Daku harus mengulang dan mengulang terus sebuah cerita yang telah saya ceritakan ribuan kali hingga dirimu terbuai dalam mimpi.

Disaat saya membutuhkanmu untuk memandikanku.
Janganlah menyalahkanku.
Ingatlah dimasa kecilmu, bagaimana daku dengan berbagai cara membujukmu untuk mandi.

Disaat saya kebinggungan menghadapi hal-hal baru dan teknologi modern.
Janganlah menertawaiku.
Renungkanlah bagaimana daku dengan sabarnya menjawab setiap "mengapa" yang engkau ajukan saat itu.

Disaat kedua kakiku terlalu lemah untuk berjalan.
Ulurkanlah tanganmu yang muda dan kuat untuk memapahku.
Bagaikan dimasa kecilmu daku menuntunmu melangkahkan kaki untuk belajar berjalan.

Disaat daku melupakan topik pembicaraan kita.
Berilah sedikit waktu padaku untuk mengingatnya.
Sebenarnya, topik pembicaraan bukanlah hal yang penting bagiku, asalkan engkau berada disisiku untuk mendengarkanku, daku telah bahagia.

Disaat engkau melihat diriku menua, janganlah bersedih.
Maklumilah diriku, dukunglah daku, bagaikan daku terhadapmu disaat engkau mulai belajar tentang kehidupan.

Dulu daku menuntunmu menapaki jalan kehidupan ini, kini temanilah daku hingga akhir jalan hidupkku.
Berilah daku cinta kasih dan kesabaranmu, Daku akan menerimanya dengan senyum penuh syukur, didalam senyumku ini, tertanam kasihku yang tak terhingga padamu.


TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI BLOG KAMI, JANGAN LUPA TINGGALKAN KOMENTAR.

Tuesday, March 1, 2016

cerpen karya gilang rahmawari-monolog kucing

monolog kucing
karya: gilang rahmawati



*bruk
Aku terlempar dari ketinggian, kulihat ke langit-langit ada tangan yang melepasku. Bukan..bukan, dia bukan melepasku tapi melemparku. Teramat keras, hingga terasa tulangku berbunyi terkena aspal keras.
Pemilik tangan itu pergi, menjauhiku. Rasanya aku ingin memaki tapi ternyata air mata lebih dahulu turun di ujung mataku. Ah, tidak! Aku menangis, bukan memaki. Dia –pemilik tangan- itu benar-benar pergi dan menghilang di ujung jalan meninggalkanku yang masih berusaha berteriak padanya.
“Meoooonngg…” aku merintih.
Baru saja rasanya tadi pagi aku merasakan nikmatnya sepiring ikan asin bersama saudaraku. Tapi, sekarang di tengah teriknya matahari di atas kepalaku. Aku kebingungan dan kelaparan. Aku mulai mengendus, mencari sesuatu yang mungkin bisa kumakan. Di balik pohon itu ada tong sampah, tapi selama aku hidup tak pernah kusentuh dan kucari makanan dari tong sampah.
Aku hanya bisa menatap bentuk tong sampah itu. Seharusnya aku bisa menjatuhkan benda itu, sebab ia tidak begitu tinggi. Tapi, aku terlalu enggan untuk mendekatinya. Ternyata keenggananku ini diperhatikan oleh kucing lain.
“Kenapa? Kamu jijik ya ke tong sampah?” godanya dari atas pagar.
Aku hanya terdiam. Bingung kata apa yang bisa kuberi untuk menjelaskan aku tidak pernah menyentuh tong sampah.
“Tampaknya aku baru melihatmu di sini, asalmu darimana?” tanyanya lagi.
“Aku..akuuu.. Entahlah, tadi manusia melemparku dan ia telah memisahkanku dari saudaraku.” Aku mulai bisa berbicara dengan kucing itu.
Saat kami asik berbincang (tentu saja dengan bahasa kucing) ada air yang jatuh dari atas. Ku pikir itu air hujan tapi ternyata air yang berasal dari ember yang dilempar oleh manusia.
“Huuusshh huussh, jangan berkelahi di sini… sana sanaaa..” bentak manusia itu.
Aneh, padahal kami berdua tidak berkelahi. Ya, kami hanya berbincang saja. Kini tubuhku basah kuyup dan kucing yang tadi baru kukenal telah hilang dari pandanganku. Ia berlari menjauhi manusia itu.
Aku berjalan pelan lalu duduk dan menjilati tubuhku, mengeringkan bulu-buluku yang basah. Aku masih menerka-nerka, sejauh mana aku dibuang sekarang. Karena, selama perjalanan aku hanya melihat kegelapan. Hanya telingaku saja yang berusaha mendengar suara-suara di luar kardus. Aku seperti diculik tapi sayang ini bukan penculikan tapi pembuangan.
Masih menjilati bulu-buluku yang basah, aku menerka-nerka apa kesalahanku hingga dibuang begini. Setiap pagi aku hanya berjalan-jalan mengelilingi rumah itu, ya memang sesekali aku menaiki sofa milik mereka. Tapi toh aku tidak mencakar-cakar, aku hanya berbaring di sana. Sering kali aku berkeliling di plafon untuk mencari tikus. Bukankah itu menguntungkan bagi mereka, setidaknya aku membasmi tikus-tikus yang sering memakan apa saja yang ada di dapur.
Dan kebaikanku dibalas dengan melemparku jauh dari tempatku lahir? Ah, tega.
Memang aku bukan lagi kucing kecil, sebab tubuhku kini sudah lebih besar dan sudah bisa menangkap tikus. Apa karena aku telah menjadi besar, sehingga aku dilempar?
Aku mulai berjalan lagi mengikuti jalan trotoar yang panas menyengat, sambil masih menerka-nerka kesalahanku. Hingga aku lelah sendiri mencari jawabannya. Jadi, kuputuskan untuk melupakannya dan menganggap ini memang sudah pantas kualami. Toh pada akhirnya aku memang sudah harus berpisah dari saudaraku. Ya, meski aku tetap tidak terima dengan cara dilempar seperti tadi.
“Meooonng..”
Aku mengeluarkan suara untuk mengetes seberapa ramai atau seberapa sunyi tempat yang baru ini. Kakiku mendadak lemas sebab perut terus saja merengek minta diisi. Kutoleh lagi tong sampah yang sudah kutinggal pergi. Mungkin di dalam tong itu banyak isi yang bisa menganjal perutku.
Sepertinya tong sampah itu berbicara padaku, “ayolah kemarii…” hingga ia berhasil menyeret kakiku untuk balik arah mendekatinya.
Aku berusaha berdiri di tepi tong dan melihat ke dalam tong.
*Wuusshh..
Suara angin tampaknya menertawakan kepedihanku, tong itu tidak berisi makanan. Hanya ada setumpuk kertas. Mungkin seharusnya aku makan kertas saja jika siang ini tidak mendapati makanan. Ah, sejak kapan kucing makan kertas? Mau cari mati rupanya aku.
Tempat ini memang ramai, tapi ramai oleh motor yang lalu-lalang. Tidak ramai oleh orang-orang yang jalan kaki. Aku duduk di pinggir trotoar, mengusap-usap kepalaku. Dari balik pagar di sebuah rumah, ada seorang anak perempuan yang berteriak mengagetkanku.
“Iiiii ada kuciiing lucuu..”
Anak itu berlari mendekatiku, aku berusaha mundur menjauh. Dia begitu asing, tapi entah kenapa aku mencium ‘aroma’ kebaikan di tangannya. Aku masih tetap bertahan dengan sikapku yang terus mundur. Anak itu juga masih bertahan untuk mendekatiku.
“Puuss..meoong sini..”
Aku masih enggan mendekat, kubalas dengan suara meong saja, “Meeoonngg..”
“Okeeh okeh, sebentar ya pus..” ucap anak itu lantas ia pergi meninggalkanku yang masih ketakutan.
Anak itu masuk ke dalam rumahnya. Tak berselang lama ia kembali lagi dan lihat… Dia membawa sepiring nasi bercampur ikan asin dan ah apa itu seperti semangkuk air.
Terima kasih Tuhan kau mendengar suara perutku, tak perlu lagi aku mendatangi tong sampah di tempat lain. Sekarang, di depanku sudah ada sepiring ikan asin dan semangkuk air.
“Meoong..”
Aku berucap lirih masih dengan posisi menjauh darinya. Aku bukan takut tapi segan. Kubiarkan lama anak itu menjulurkan piring dan mangkuk itu. Tak bisa dibohongi aku memang tergiur, tapi aku segan!
Anak itu mengajakku bermain-main, ditariknya piring itu bergerak masuk ke terasnya. Aku mengikuti dengan jarak yang agak jauh. Hidungku terus saja bergerak-gerak, mengendus aroma sedap ikan asin. Ia meletakan piring itu di teras rumahnya yang teduh, ah terima kasih Tuhan dia mengerti aku kepanasan. Anak itu pergi meninggalkanku yang masih terdiam malu-malu.
“Meoonng..”
Aku mencoba mencarinya dengan bersuara, tak jua ia keluar. Kulihat kiri dan kanan, waspada pada kucing lain. Ini jatahku! Jangan sampai kucing lain mengambilnya. Kakiku berjinjit mendekati piring itu, hidung pun masih mengendus-endus.
“hhmm..nyaaamm..”
Terima kasih Tuhan, kau hadirkan sepiring ikan asin ini yang lezat.
*braaakk..
Reflek aku menoleh, mencari asal suara. Suara apa itu? Darimana? Anak tadi apa kucing lain?
Kugeser piring itu agak menepi, pokoknya ini jatahku jangan ada yang ikut memakannya. Kunikmati lagi setiap gigitan ikan asin sampai piring itu tampak bersih. Kujilati air pada mangkuk, segar. Selesai makan, aku duduk santai kekenyangan sambil menjilati kaki.
“Baaaa…”
Aih! Aku kaget, anak itu keluar dari pintu lalu berteriak nyaring.
“Dasaarrr kucing, memang sukanya malu-malu. Haha.. pantas saja ada peribahasa malu-malu kucing. Hahaha” anak itu tertawa geli, dan aku pun tersipu malu.
****
Kupanggil, dia cuma meoong.
Kutinggal, dia juga meoong.
Kulempar ikan, dia terdiam.
Kutinggal pergi, dia curicuri pandang.
Kuintip, dia mengunyah.
(Malu-Malu Kucing)
****

Gilang Rahmawati (GeeR)
Palangkaraya, 27 Juni 1990.

Saturday, January 30, 2016

cerpen sedih berjudul Lelaki Matahari karya agistya pramesti

Lelaki Matahari

Cerpen Karangan: 

Seperti biasa, sang Ibu membangunkan anak lelakinya yang mulai remaja. Seorang anak bertubuh kekar yang diberi nama Sutrimo. Menurut orang Jawa, Su berarti baik dan Trimo berarti selalu menerima atau dalam bahasa Jawa berarti narima ing pandum. Singkatnya, Sutrimo berarti seorang anak yang berlaku baik dan selalu ikhlas dengan keadaan yang ada. “Nak, kamu nggak mau sekolah apa? Ini sudah siang, cepatlah mandi!” sang Ibu berulang kali membangunkannya. Ini adalah keempat kalinya perempuan paruh baya itu menjenguk anak lelakinya. Rumah kecil yang hanya berukuran lima kali delapan meter, berlantai ubin dan dua kamar tidur serta langit-langit kamar rendah yang langsung genteng membuat pengap sering menyerang para penghuninya.
“Ibu, aku nggak mau sekolah. Pokoknya aku nggak mau sekolah.”
“Memang kenapa? Apa ada yang mengganggumu di sekolah? Katakan pada Ibu!”
Sutrimo menggeleng lemah. Wajahnya muram lalu mengalihkan pandangan pada sang Ayah yang sedang asyik mengelap becak kesayangannya. “Aku belum bayar uang sekolah. Kemarin adalah hari terakhir. Aku tahu Ayah belum punya uang sebanyak itu. Tapi, ini juga salahku seharusnya aku nggak sekolah di tempat elit begitu,” ujar Sutrimo.
Pak Ponimin terenyuh mendengar penuturan putranya. Anak lelaki kebanggaannya yang menjadi pelecut semangat setiap pagi. Kemudian, ia segera beranjak menghampiri Sutrimo. “Maafkan Ayah, Nak. Kamu sekolah saja, mintalah keringanan batas waktu pada gurumu. Ayah usahakan agar hari ini uang itu sudah terkumpul. Tidak perlu menyalahkan dirimu, karena kamu pantas ada di sana. Ayah dan Ibu bangga dengan prestasimu. Jangan pernah patah semangat ya, karena Tuhan akan selalu memberi jalan bagi kita.”
Trimo, panggilan kecilnya itu hanya menggangguk. Sungguh, ia tak sampai hati untuk membuat Ayahnya bersedih. Karena itu, selama ini ia tak pernah memaksa meminta uang sekolah. Namun, batas waktu yang diberikan pihak sekolah sudah mencapai maksimal. Ultimatum sudah sempat diumumkan kemarin. Pak Ponimin mengayuh becaknya menerobos terik yang menyengat raganya. Ia bertekad bekerja lebih keras lagi demi memenuhi kebutuhan istri dan anaknya. Lelah bukan hal berarti, sebab senyum keluarga adalah hal terindah yang bisa ia nikmati.
“Bagaimana, Yah?” tanya Istrinya.
Pak Ponimin menghela napas. Ia tersenyum lalu duduk bersandar di teras rumah sederhananya.
“Alhamdulilah, Trimo nggak usah khawatir lagi. Ini!” sembari menyodorkan uang pada Istrinya. “Tapi, Yah..”
“Ya, aku ngerti apa yang Ibu akan tanyakan. Tadi aku pinjam uang ini pada Pak Margo. Dia memberi keleluasaan untuk mengembalikkan kapan saja setelah kita punya uang.”
“Ahamdulilah, Pak Margo baik banget ya?” ucap sang Istri. “Tapi, kenapa wajah Ayah masih terlihat sedih begitu?”
“Hmm. Bu, apa sebaiknya Ayah menerima tawaran Pak Margo ya?”
“Tawaran apa Yah?”
“Bekerja ke luar negeri. Jujur, kalau terus menjadi tukang becak, kita nggak bisa membiayai sekolah Trimo sampai tinggi. Dia satu-satunya harapan kita, tanggung jawab yang harus kita tuntaskan. Ayah ingin melihat Trimo berhasil dan menjadi orang. Dia nggak boleh merasakan hidup yang susah seperti kita.”
“Tapi, bekerja di luar negeri bukan satu-satunya jalan. Ibu sangat khawatir kalau harus berpisah dengan Ayah. Nanti kalau Ayah di sana sakit, siapa yang akan merawat? Belum lagi untuk pulang ke sini pasti butuh ongkos yang nggak ringan. Berita di televisi soal mereka yang kerja di luar negeri banyak yang mengerikan, Ibu nggak mau Ayah mengalami nasib yang sama seperti mereka.”
“Ibu nggak perlu khawatir begitu. Tuhan pasti akan menjaga Ayah. Yang harus kita pikirkan adalah masa depan Trimo.” Seorang remaja lelaki tengah menyeka air matanya. Di balik jendela, ia mendekap rasa haru yang membuatnya merasa bersalah. Seragam putih abu-abu yang ia kenakan ini memang bukan jejak yang harus terhenti di tengah jalan. Ia pun punya cita yang sama, namun jika harus menuntut pengorbanan berlebih dari sang Ayah, ia tak sanggup. Lelaki renta yang tengah beranjak senja itu semestinya telah menikmatinya hari tua dengan tenang. Sayang, lakon hidup masih harus dijalani dengan lebih tegar lagi.
“Ada apa? Kenapa wajahmu muram begitu?” tanya Pak Ponimin.
“Ayah, aku nggak mau Ayah pergi.”
“Trimo, memangnya Ayah mau pergi ke mana? Kamu ini aneh-aneh saja,” kata Pak Ponimin sembari tersenyum simpul. Pak Ponimin berjalan ke luar rumah. Di depan rumah, sengaja ia memasang tempat duduk kecil yang sering mereka lewatkan ketika bercengkerama menunggu malam. Ia paham dan mengerti kekhawatiran yang melanda batin Sutrimo. Tapi tak ada pilihan lain, semua demi masa depan anak tersayangnya.
“Ayah, aku bersungguh-sungguh. Jangan pergi! Jangan pernah pergi!” rengek Sutrimo
“Trimo, kamu itu anak laki-laki. Harus kuat, jangan cengeng begitu. Ayah cuma mau titip pesan. Tolong jaga Ibumu! Hibur dia kalau sedih, jangan biarkan ada air mata!”
Sutrimo terisak. Ia merasakan perpisahan yang dalam, padahal sang Ayah ada di depannya. Guratan zaman yang kian letih di wajah senjanya membuat Sutrimo tak bisa menahan sesak. Ia tak sampai hati membayangkan sang Ayah harus bekerja keras di negeri orang tanpa bisa ia tahu seperti apa keadaannya. “Tuhan, tolong lindungi Ayah terbaikku. Sungguh, ia adalah Ayah terhebat di dunia. Ijabah segala doa dan inginnya,” batin Sutrimo.
Rentang jarak Indonesia dengan China bukan ukuran yang bisa ditempuh dengan hitungan detik. Kelebat yang terbiasa nyata lalu menghilang, tentu saja membias rindu. Ada hati yang tertatih menakar rasa. Bukan hanya Sutrimo, tapi sang Ibu merasakan rindu yang serupa. Detak yang saling berdenyut meski detik tak seirama. Setahun berlalu, semua berjalan lancar seperti yang mereka impikan. Sutrimo menjalani hari dalam semangat yang terus meletup, sebagai bukti bagi kebanggaan sang Ayah.
“Trimo … Mo?” suara sang Ibu tergopoh-gopoh menuju kamar Sutrimo.
“Ada apa toh, Bu? Kok samapai keringetan begitu?”
“Ini loh Mo ada surat dari pos. Coba kamu baca! barang kali dari Ayahmu.”
Sutrimo meraih surat yang diberikan oleh Ibunya. Ia beranjak duduk di sisi pembaringan. Ada debar yang menyelimuti hatinya, tak biasa. Perlahan ia tersenyum ketika tahu surat itu dari China. “Gimana? Ayahmu ngomong apa?” Sutrimo hanya diam. Matanya terperangah. Ia mematung tanpa kata. Bungkam, seolah udara membekapnya tiba-tiba.
“Mo, ada apa? Katakan pada Ibu! Kenapa?” suara sang Ibu merajuk. “Bu?” lirih gumam Sutrimo . “Ayah, dia..”
“Ayahmu kenapa? Dia mau pulang? Apa dia sakit?” gundah menyerang tanya sang Ibu.
Sutrimo memeluk sang Ibu dengan erat. Tak tahan, air mata jatuh juga. Ia menangis, melampiaskan sesak di dadanya.
“Bu, surat dari kedutaan. Mereka bilang Ayah sudah meninggal dalam sebuah kecelakaan kerja.”
“Apa!” Wajah sang Ibu pucat pasi, lidahnya kelu. Dunia seakan berputar dan ia terlempar ke tempat yang sangat asing. “Ibu, jangan begini! Bu bangun! Ibuuu!!!” teriak Sutrimo histeris.
Beberapa tetangga dekat berdatangan, mereka pun masih tak percaya dengan kabar duka yang sungguh memilu itu.
“Ayah, ku himpun berita indah menunggu datangmu. Tak pernah ku duga kau lebih dulu memberi kami berita. Maaf, benar-benar maaf. Bagaimana rindu ini akan ku kabarkan? Senyum itu tak akan pernah lagi ku lihat. Kenapa secepat itu harus melepasmu? Aku ingin melihatmu, Yah. Sangat ingin! Aku rindu, aku rinduuuu Ayah!!!” Sutrimo histeris sembari menggenggam piala kemenangannya pada kenaikan kelas kemarin.
Dan pada setiap jejak, akan selalu ada kisah
Tentang sosok yang tak pernah terganti
Dan pada setiap waktu, akan selalu ada doa
Untuknya yang tak pernah hilang
Ayah
Cerpen Karangan: Agistiya Pramesti
Facebook
: Agistiya Parmesti
TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI BLOG INI... JANGAN LUPA TINGGALKAN KOMENTAR 

cerpen Janji Di Bawah Langit Biru karya Fauzi Maulana

Janji Di Bawah Langit Biru

Cerpen Karangan: 
“Ayahku sudah pergi selamanya!” ucap Eun-ji dengan mata yang berkaca-kaca.
“Tak usah terlalu sedih Eun-ji! aku… Akan selalu ada untukmu,” seru Hong-jae agak terbata bata. Mereka saling bertatapan. Hong-jae menundukkan pandangannya. Ia tak kuat bila ditatap terlalu lama oleh Eun-ji. “Bagaimana bisa?” tanya Eun-ji mengusap air mata di pipinya.
“Eun-ji! Mari saling menatap ke atas! kau lihat ada apa di sana?” ujar Hong-jae lalu merebahkan tubuhnya di atas hamparan rumput hijau. Eun-ji lalu mengikuti apa yang dilakukan Hong-jae.
Kini mereka saling menatap angkasa yang biru. “Ada langit biru dan sedikit awan,” ucap Eun-ji.
“Park Eun-ji! Mari bersama, Kita mengikat janji di bawah langit biru yang cerah dan luas ini,” tangan Hong-jae lalu menggenggam tangan Eun-ji. “Kim Hong-jae! Heh… Berjanjilah kau akan selalu ada untukku! Berjanjilah kau akan selalu jadi perisaiku…” ujar Eun-ji menatap wajah Hong-jae dari samping.
“Langit biru ini saksinya Eun-ji. Aku berjanji. Kau! Berjanjilah untuk selalu menjadi Eun-ji yang ku kenal, yang selalu ceria. Jangan khawatir aku akan berusaha menjadi perisai yang akan selalu melindungimu,” sambung Hong-jae. Mereka pun lalu bangkit dan pergi menuju tempat yang mereka rencanakan.
Sebulan mereka bersama, semenjak janji yang mereka ucap.
“Apa kita pacaran?” tanya Eun-ji spontan membuat Hong-jae tersedak minumannya lalu terbatuk-batuk.
“Maaf! Hong-jae… kau tak apa apa kan?” tanya Eun-ji panik. Sejenak keadaan pun menjadi hening.
“aku selalu berharap demikian. Tapi, aku tak terlalu berharap padamu Eun-ji. Aku merasa tak pantas denganmu,” Hong-jae tertunduk. Tiba-tiba Eun-ji mengecup kening Hong-jae, sehingga membuat Hong-jae bengong.
“Apa ini cukup menjadi bukti?” tanya Eun-ji dengan seulas senyum.
“Ee…ee..” Hong-jae bergeming. Eun-ji tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Hong-jae. Sebuah kecupan kembali mendarat. Kali ini di bagian bibir Hong-jae.
“Jadilah pacarku lewat kecupan ini!” bisik Eun-ji seraya menatap dalam wajah Hong-jae.
“Janjimu dan janjiku… Harus Kita tepati,” ucap Hong-jae. Eun-ji lalu tersenyum ringan. Ia mengerti maksud ucapan Hong-jae.
Di bawah langit biru musim semi. Hong-jae dan Eun-ji saling merebahkan diri. Menatap indah dan luasnya langit biru karya Tuhan itu. “Ayah! Lihatlah sekarang. aku sedang bersama sosok yang dulu Ayah benci. Sekarang, dia bersamaku dan selalu menjadi perisaiku. Ayah! Berkatilah kami di sini. Bahagialah di sana Ayah!” seru Eun-ji berkata dengan mata tertutup. Hong-jae hanya tersenyum kecil, hanya terlihat sebagian gigi putihnya itu.
“Paman! aku berjanji. Akan selalu ku jaga putrimu yang luar biasa ini. Paman! aku tahu kau sedang bahagia di sana. Restuilah dan berkatilah kami. Karena aku… Sangat menyayangi putrimu ini,” sambung Hong-jae menirukan gaya bicara Eun-ji dengan menutup kedua matanya. Eun-ji membuka matanya dan memandang wajah Hong-jae yang sedang memejamkan matanya. Eun-ji lalu memeluk tubuh Hong-jae dengan segenap rasa di jiwanya. “Terima kasih Hong-jae. Langit biru itu telah mengikap janji Kita dulu. Cinta Kita akan selalu terbentang luas seperti langit biru yang indah itu,” bisik lembut Eun-ji.
KISS!
Untuk pertama kalinya, Hong-jae mencium bibir Eun-ji. Kini, giliran Eun-ji yang bengong. Hong-jae lalu menarik tubuh Eun-ji sehingga kini mereka dalam posisi duduk.
—-
“Apa warna langit?” tanya seorang anak perempuan berusia 4 tahunan yang berada di pangkuan Hong-jae.
“Biru,” jawab Hong-jae. “Bentuknya bagaimana?” kembali anak perempuan itu bertanya, membuat Hong-jae gemas.
“Luas dan iiiiiindaaaah sekali…” jawab Hong-jae lalu mencubit kecil pipi anak itu.
“Sudahlah Ye-eun, Ayahmu pasti tambah gemas. Kamu mau digigitnya?” ucap Eun-ji sambil membawa sepiring pancake cokelat. “Kamu memang gadis Ayah yang paaaaaling cantik dan menggemaskan Ye-eun,” puji Hong-jae dengan sebuah kecupan penuh cinta di pipi buah hatinya itu.
Eun-ji lalu menyuruh dua orang di depannya itu untuk segera sarapan. Dengan hidangan yang ia buat, Hong-jae dan Ye-eun terlihat bahagia dan menikmatinya. Sebuah janji yang terikat kini telah berbuah manis. Hidup yang dijalani Eun-ji kini semakin berwarna semenjak kehadiran Hong-jae. Bersama selama dua tahun, mereka dianugerahi malaikat kecil yang semakin memberi warna di hidup mereka. Song Ye-eun, buah hati yang selalu mereka jaga. Saat ini janji mereka bertambah di bawah langit biru, mereka berteriak akan menjaga dan membesarkan titipan Tuhan yang telah mereka terima. Saling bergandengan tangan, tiga orang yang bahagia itu bersama menempuh hidup ini. Langit biru pun seolah tersenyum kepada mereka bertiga. Inilah jalan yang telah mereka tempuh, mereka jalani dengan bersama sama yang dipenuhi cinta, kasih dan untaian janji suci.
sekian.....
TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI BLOG INI, JANGAN LUPA TINGGALKAN KOMENTARNYA SEBELUM PERGI, :D
Cerpen Karangan: Fauzi Maulana
Facebook: www.facebook.com/fauzimaulana.sukidakara