Wednesday, January 11, 2017

puisi resah awan kelabu oleh andri sugiana

RESAH AWAN KELABU
oleh: andri sugiana 


Resahku
Bagai perjalanan
Sang awan kelabu
Yang menusuri langit
Meninggalkan jejak langkah yang ragu

Hingga tiba di suatu langit
Ia turunkan hujan
Namun tak bisa memastikan
Airnya sembuhkan dahaga pohon
Mengalir di bawa pergi sungai

Ataukah membawa kemalangan
Menenggelamkan pohon dalam genangan hujan

Kedung halang, 08-01-2017

Tuesday, January 10, 2017

cara membuat musikalisasi puisi beserta contoh referensi dari karya yang sudah ada

Assalamu'alaikum wr,wb

Musikalisasi puisi yaitu membaca puisi dengan diiringi musik yang sesuai dengan tema dan suasana yang tergambar dalam puisi tersebut.

Pada pembahasan ini, kita akan dilatih untuk memahami puisi lewat musikalisasi puisi.Musikalisasi puisi adalah bentuk penyampaian puisi dengan diiringi irama musik.


Tujuannya untuk memperkenalkan puisi kepada masyarakat luas. Cara ini bukanlah hal baru, tepatnya telah dipelopori oleh mahasiswa Universitas Indonesia yang menyanyikan puisi-puisi karya Sapardi Djoko Damono yang ada dalam buku antologi puisi "Hujan Bulan Juni".

Bentuk apresiasi puisi seperti ini sampai sekarang masih mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Banyak musikus dan penyanyi yang telah melakukannya, baik dalam bentuk pementasan maupun rekaman.

Bahkan puisi karya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun telah diubah menjadi bentuk musikalisasi dan dinyanyikan oleh Widi AB Three.



Cara Musikalisasi Puisi

Berikut ini ada beberapa hal yang harus kalian lakukan agar kalian dapat memusikalisasi puisi secara baik.
Pengertian dan Contoh Cara Musikalisasi Puisi Persahabatan Ebiet G. Ade
Contoh Musikalisasi Puisi

1. Menentukan puisi yang akan dimusikalisasi.


2. Mengapresiasi puisi yang telah ditentukan.


Mengapresiasi puisi artinya mencermati secara sungguh-sungguh sebuah puisi hingga tumbuh pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kritis dan kepekaan perasaan yang baik terhadap cipta sastra.


3. Memerhatikan kesusastraan isi puisi dengan suasana yang dibangun.


4. Menentukan alat musik yang digunakan untuk mengiringi musikalisasi puisi. 


Alat musik yang akan kalian gunakan dapat berupa gitar, gendang, keyboard, dan sebagainya.


5. Menentukan notasi nada yang akan digunakan. 


Notasi nada tersebut dapat berbentuk notasi angka ataupun notasi balok. Guna notasi untuk mempermudah melagukan puisi tersebut.


Tentunya mengubah sebuah puisi menjadi musikalisasi bukanlah hal yang mudah. Oleh sebab itu, kita harus rajin berlatih.


Berikut ini adalah contoh puisi yang dapat kalian gunakan untuk belajar memusikalisasi puisi.


Hayatilah Sayang
Karya: Yant Mujiyanto

Hayati, rasa serta renungkan

Duka mahapedih sedalam samudra
Oleh gelombang tsunami yang gemuruh menerjang
Yang merenggut dan memorakporandakan segalanya

Semoga, dengan semua itu

Terketuklah pintu hatimu
Untuk ikhlas berbagi
Menyantuni

Merawat dan merengkuh penuh kasih sayang

Mereka yang kini terlunta
Seraya engkau pun merasa perlu berpuasa
Dari menempuh hidup sekadar berhura-hura

Berbahagialah kita

Yang mampu mengambil hikmah
Atas musibah
Yang datang melanda

(Dikutip dari: Indonesia Menangis, 2005)


Puisi "Hayatilah Sayang" di atas merupakan salah satu puisi yang diambil dari buku kumpulan puisi "Indonesia Menangis" karya Yant Mujiyanto yang ditulis sebagai bentuk simpati terhadap bencana tsunami yang menimpa Aceh pada tanggal 24 Desember 2004.


Kita dapat mendengarkan contoh-contoh puisi karya Ebiet G. Ade, Iwan Fals atau pun lagu-lagu dari musisi Indonesia lainnya untuk memperdalam pengetahuan kalian tentang musikalisasi puisi.


Karya musisi-musisi tersebut selain enak didengarkan, juga mempunyai lirik yang puitis. Sebagai contoh, bacalah puisi berjudul "Usah Kau Lara Sendiri" berikut ini!


Kemudian dengarkanlah bentuk lain dari puisi tersebut yang telah berbentuk lagu! Rasakanlah perbedaan antara puisi dan musikalisasi puisi!



Usah Kau Lara Sendiri

Kulihat mendung membayangi pancaran wajahmu

Tak terbiasa kudapati terdiam mendura
Apa gerangan bergemuruh di ruang benakmu
Sekilas galau mata ingin berbagi cerita

Kudatang sahabat bagi jiwa

Saat batin merintih
Usah kau lara sendiri
Masih ada asa tersisa

Letakkanlah tanganmu di atas bahuku

Biar terbagi beban itu dan tegar dirimu
Di depan sana cahya kecil tuk memandu

Tak hilang arah kita berjalan menghadapinya

Sekali sempat kau mengeluh kuatkah bertahan?
Satu per satu jalinan kawan beranjak menjauh

Kudatang sahabat bagi jiwa

Saat batin merintih
Usah kau lara sendiri
Masih ada asa tersisa

Penyanyi: Katon Bagaskara dan Ruth Sahanaya

(Ciptaan: Andre Manika)
Berikut pembahasan mengenai musikalisasi hari ini, semoga sukses bagi kawan yang sedang mendapat tugas membuas musikalisasi puisi dari gurunya, :D

Tuesday, July 12, 2016

Rindu Hentak Kaki – oleh Nurul Assyifa Wardana

judul: Rindu Hentak Kaki 
 oleh: Nurul Assyifa Wardana
Rindu
Nyanyian sang burung
Rindu
Hentak kaki berlari
Terinjak tanah sepatu
Menuju alam riang sekolah
Bunyi kotak pensil
buku botol minum
saling bertemu dalam luasnya
ruang tasku
rindu akan segala
rindu akan pergi
ingin temu dalam ruang hati riang
karena kurindu akan indahnya sekolahku

Rindu Hentak Kaki – oleh Nurul Assyifa Wardana
Cirebon, Jawa Barat
fb: Nurul Assyifa Wardana

Wednesday, May 25, 2016

esai-RONJANG : TOPIK ISLAM YANG UBSURDISME

RONJANG : TOPIK ISLAM YANG UBSURDISME

MEMBACA novel Mana Sikana, Ronjang, kita masih mengingati stail penulisannya yang berbentuk ubsurd. Kita masih membayangkan apakah Ronjang juga mempunyai kecirian seperti mana cerpen-cerpen Fakurdabakia atau Nusia. Apatah lagi bila intisari pengenalannya, Ronjang dikatakan mencari kebebasan dari isme-isme sama ada romantisme, realisme mahupun ubsurdisme. Ini lebih menarik perhatian kita untuk menghayati novel tersebut.

Ronjang, walau pun mahu melarikan dari ikatan isme-isme, namun Mana Sikana masih terikat kepada bentuk ubsurdisme. Walau pun ia tidak sehebat cerpen-cerpennya, Fakurdabakia atau Nusia, namun ia masih lagi mempunyai ciri-cirikeubsurdisme itu.

Ini diberatkan dengan penggunaan personifikasi, interior monologuestream of consciusness dan teknik-teknik lainnya. Pada permulaan cerita, Ronjang seakan mirip novel Putu Wijaya, Telegram. Malah, suatu dialog yang bersamaan juga terkandung di dalamnya. Dalam Telegram, Putu Wijaya menuliskan, " kami berjalan sebentar untuk menunggu hari gelap. Lalu memasuki losmen sebagaimana biasa. Apa lagi namanya saat itu kalau bukan perzinahan, " ( hal. 1 ) Dalam Ronjang pula, Mana Sikana mengungkapkan, " tangan keras itu merangkul tubuh Aini. Membiarkan masa berjalan dengan drastik. Apakah nama itu kalau bukan perzinahan, " ( hal. 4)

Jika diteliti di sepanjang bab 1 hingga bab 9, Ronjang berada dalam keubsurdan. Ia hanya bebas selepas bab 9. Permasalahan yang ditimbulkan dalam Ronjangmemang satu persoalan yang ubsurd juga. Soal kematian yang menjadi satu persoalan dalam hidup Murad. Ia dikejar kematian dalam suatu keadaan yang diilhamkan oleh interior monologue. Walau bagaimana pun, pengarang cuba melalaikan cara kematian ini dengan berbagai pelarian klimaks yang kadangkalannya meninggalkan kesan dramatik dan kadangakalanya menurunkan drastik pembaca.

Ronjang memilih topik keislaman. Ia berkisar dalam satu kehidupan keluarga yang hanyut dalam kebendaan. Murad seorang usahawan yang telah berjaya. Bersamanya tinggal seorang isteri, Zaiton, yang berfahaman sederhana. Seorang isteri yang mempunyai pegangan keagamaan. Di samping itu, anak-anaknya Syafiq yang gila untuk menjadi bintang bola sepak, Balqis pula telah membuang minatnya untuk belajar kerana terjerumus dalam dunia percintaan remaja dengan seorang askar ( Mansur ), Manakala Salleh seorang anak yang warak, dan Kitum anaknya bungsu menggemari filem Hindustan dan berangan-angan mahu menjadi seorang pengarang ( novelis )

Perjalanan hidup Murad banyak berkisar dalam pancaroba tabiatnya. Menodai setiausahanya, Mimi, Aini dan banyak lagi. Di samping watak-watak sampingan yang banyak membantu kewujudan Murad. Dalam bab-bab yang awal ternyata Murad ditonjolkan dalam bentuk ubsurd. Penggunaan teknik stream of consciusnessinterior monologue membantu keadaan ini. Ini diberatkan dengan penggunaan personifikasi, iaitu memperorangkan kereta, rumah dan objek-objek lain. Malah beberapa perkataan juga dipersonifikasikan.

Persoalan yang dipamerkan untuk menjadi topik hidup Murad ialah menyambut hari jadinya yang keempat puluh. Segala persiapan besar-besaran telah diadakan. Anak-anaknya memainkan peranan penting bagi mewujudkan ketegangan suasana tersebut. Mimi, setiausahanya juga menjadi sandaran yang hebat. Murad mahu menonjolkan dirinya di hari jadinya itu. Dia mahu membelanjakan wang yang banyak untuk mempamerkan keunggulannya sebagai seorang usahawan yang berjaya. Tabiat anak-anaknya yang memperhebatkan lagi persediaan menyambut hari jadi tersebut. Kitum dengan novelnya. Syafiq dengan bola sepaknya dan Balqis dengan kekasihnya.

Tetapi Salleh yang warak itu dengan pendiriannya mahukan majlis hari jadi itu disambut dengan membaca tahlil dan doa selamat. Ini disokong oleh ibunya. Lantas dalam kesesatan keduniaannya itu, Murad didatangi dengan suara yang membawa khabar kematiannya. Keadaan inilah yang membawa plot ceritaRonjang secara keseluruhan.

Selain watak utamanya, Murad, dua watak lain juga menarik perhatian ialah watak Salleh dan Kitum, Kitum merupakan satu pengamat dalam kehidupan ayahnya yang akan menghadapi mati dan mencatatkannya ke dalam novel yang akan dihadiahkan kepada ayahnya dalam sambutan hari jadi itu, Ronjang memilih topik keislaman. Ia berkisah dalam satu kehidupan keluarga yang hanyut dalam kebendaan. Murad seorang usahawan yang telah berjaya. Bersama tinggal dengan seorang isteri, Zaiton yang berfahaman sederhana. Seorang isteri yang mempunyai pegangan keagamaan.

Penonjolan watak ini amat melucukan kerana watak begini tidak realistik dalam kehidupan sehari-harian manusia. Kehadirannya pada saya tidak lebih untuk memenuhi ciri-ciri lelucon semata. Manakala watak Salleh, seakan menjadi nada penggerak watak utama malah melanjutkannya kepada unsur-unsur Islam. Salleh, nama yang dipadankan dengan sifatnya membuat pelbagai perubahan dalam cerita ini. Kalau diteliti lebih lanjut, Salleh lebih merupakan tokoh utama dalam novel ini yang berteraskan keislaman. Lebih menonjol lagi watak Salleh di pengakhirannya. Salleh lebih berjaya mendapat tempat. Murad menerima hukuman rejam sampai mati mengikut undang-undang Islam. Mengikut dari segi logik, pengarang hilang pedoman. Pengarang dihantui oleh tema keislaman yang mana kebatilan harus dikalahkan oleh yang makruf.

Beberapa keadaan telah menunjukkan Murad akan terselamat dari hukuman mati. Mengikut logik, Murad hanya dihukum denda lima ratus ringgit. Tetapi pengarang cuba mengekplotasikan keadaan ini dengan imbauan-imbauan hukum Islam. Untuk itu, ia mencatatkan begini, " setelah beradab-abad lamanya, penghukuman rejam sampai mati tidak dijalankan, itulah kali pertamanya hukuman seperti itu diadakan, " ( hal. 159 ) Sebagai sebuah karya yang bertemakan Islam, Ronjangdikira telah menepati motif tersebut. Namun, pengarangnya masih belum mengangkat karya itu sebagai sebuah karya Islam yang bermutu tinggi. Malah untuk diakui sebagai karya sastera yang baik juga belum terangkat. Cuma dapatlah ia dikategorikan dalam sebuah karya yang menjurus ke arah keislaman.

Sebagai seorang penulis berbagai genre kesusasteraan, esais dan pengkritik yang berwibawa, Mana Sikana seakan masih mencari-cari identiti penulisannya. Ia masih gagal menempatkan sebagai seorang penulis yang beridentiti mutlak seperti Shahnon Ahamad atau pun Azizi Haji Abdullah. Selama ini kita mengenal Mana Sikana seorang penulis yang kritis, progresif malah memperjuangkan kemajuan dalam bidang sastera. Fikirannya sentiasa membangun tetapi kadangkala daya fikirannya kesasar dan menjurus kepada kenegatifan Islamik. Pendekatan kritikan semiotik dan strukturilisme banyak membantu beliau menghasilkan karya-karya eksperimental.

- Mingguan Malaysia 28 Disember 1984

Monday, May 16, 2016

Gurindam 12- Raja Ali Haji


GURINDAM DUA BELAS
karya: Raja Ali Haji
Satu
Ini Gurindam pasal yang pertama:
Barang siapa tiada memegang agama,
Sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.
Barang siapa mengenal yang empat,
Maka ia itulah orang yang ma’rifat
Barang siapa mengenal Allah,
Suruh dan tegahnya tiada ia menyalah.
Barang siapa mengenal diri,
Maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri.
Barang siapa mengenal dunia,
Tahulah ia barang yang teperdaya.
Barang siapa mengenal akhirat,
Tahulah ia dunia mudarat.
Dua
Ini Gurindam pasal yang kedua:
Barang siapa mengenal yang tersebut,
Tahulah ia makna takut.
Barang siapa meninggalkan sembahyang,
Seperti rumah tiada bertiang.
Barang siapa meninggalkan puasa,
Tidaklah mendapat dua termasa.
Barang siapa meninggalkan zakat,
Tiadalah hartanya beroleh berkat.
Barang siapa meninggalkan haji,
Tiadalah ia menyempurnakan janji.
Tiga
Ini Gurindam pasal yang ketiga:
Apabila terpelihara mata,
Sedikitlah cita-cita.
Apabila terpelihara kuping,
Khabar yang jahat tiadaiah damping.
Apabila terpelihara lidah,
Niscaya dapat daripadanya paedah.
Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan,
Daripada segala berat dan ringan.
Apabila perut terlalu penuh,
Keluarlah fi’il yang tiada senonoh.
Anggota tengah hendaklah ingat,
Di situlah banyak orang yang hilang semangat
Hendaklah peliharakan kaki,
Daripada berjaian yang membawa rugi.
Empat
Ini Gurindam pasal yang keempat:
Hati itu kerajaan di daiam tubuh,
Jikalau zalim segala anggotapun rubuh.
Apabila dengki sudah bertanah,
Datanglah daripadanya beberapa anak panah.
Mengumpat dan memuji hendaklah pikir,
Di situlah banyak orang yang tergelincir.
Pekerjaan marah jangan dibela,
Nanti hilang akal di kepala.
Jika sedikitpun berbuat bohong,
Boleh diumpamakan mulutnya itu pekung.
Tanda orang yang amat celaka,
Aib dirinya tiada ia sangka.
Bakhil jangan diberi singgah,
Itulah perampok yang amat gagah.
Barang siapa yang sudah besar,
Janganlah kelakuannya membuat kasar.
Barang siapa perkataan kotor,
Mulutnya itu umpama ketor.
Di mana tahu salah diri,
Jika tidak orang lain yang berperi.
Lima
Ini Gurindam pasal yang kelima:
Jika hendak mengenai orang berbangsa,
Lihat kepada budi dan bahasa,
Jika hendak mengenal orang yang berbahagia,
Sangat memeliharakan yang sia-sia.
Jika hendak mengenal orang mulia,
Lihatlah kepada kelakuan dia.
Jika hendak mengenal orang yang berilmu,
Bertanya dan belajar tiadalah jemu.
Jika hendak mengenal orang yang berakal,
Di dalam dunia mengambil bekal.
Jika hendak mengenal orang yang baik perangai,
Lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai.
Enam
Ini Gurindam pasal yang keenam:
Cahari olehmu akan sahabat,
Yang boleh dijadikan obat.
Cahari olehmu akan guru,
Yang boleh tahukan tiap seteru.
Cahari olehmu akan isteri,
Yang boleh dimenyerahkan diri.
Cahari olehmu akan kawan,
Pilih segala orang yang setiawan.
Cahari olehmu akan ‘abdi,
Yang ada baik sedikit budi,
Tujuh
Ini Gurindam pasal yang ketujuh:
Apabila banyak berkata-kata,
Di situlah jalan masuk dusta.
Apabila banyak berlebih-lebihan suka,
Itulah landa hampirkan duka.
Apabila kita kurang siasat,
Itulah tanda pekerjaan hendak sesat.
Apabila anak tidak dilatih,
Jika besar bapanya letih.
Apabila banyak mencela orang,
Itulah tanda dirinya kurang.
Apabila orang yang banyak tidur,
Sia-sia sahajalah umur.
Apabila mendengar akan khabar,
Menerimanya itu hendaklah sabar.
Apabila menengar akan aduan,
Membicarakannya itu hendaklah cemburuan.
Apabila perkataan yang lemah-lembut,
Lekaslah segala orang mengikut.
Apabila perkataan yang amat kasar,
Lekaslah orang sekalian gusar.
Apabila pekerjaan yang amat benar,
Tidak boleh orang berbuat honar.
Delapan
Ini Gurindam pasal yang kedelapan:
Barang siapa khianat akan dirinya,
Apalagi kepada lainnya.
Kepada dirinya ia aniaya,
Orang itu jangan engkau percaya.
Lidah yang suka membenarkan dirinya,
Daripada yang lain dapat kesalahannya.
Daripada memuji diri hendaklah sabar,
Biar dan pada orang datangnya khabar.
Orang yang suka menampakkan jasa,
Setengah daripada syirik mengaku kuasa.
Kejahatan diri sembunyikan,
Kebaikan diri diamkan.
Keaiban orang jangan dibuka,
Keaiban diri hendaklah sangka.
Sembilan
Ini Gurindam pasal yang kesembilan:
Tahu pekerjaan tak baik, tetapi dikerjakan,
Bukannya manusia yaituiah syaitan.
Kejahatan seorang perempuan tua,
Itulah iblis punya penggawa.
Kepada segaia hamba-hamba raja,
Di situlah syaitan tempatnya manja.
Kebanyakan orang yang muda-muda,
Di situlah syaitan tempat bergoda.
Perkumpulan laki-laki dengan perempuan,
Di situlah syaitan punya jamuan.
Adapun orang tua yang hemat,
Syaitan tak suka membuat sahabat
Jika orang muda kuat berguru,
Dengan syaitan jadi berseteru.
Sepuluh
Ini Gurindam pasal yang kesepuluh:
Dengan bapa jangan durhaka,
Supaya Allah tidak murka.
Dengan ibu hendaklah hormat,
Supaya badan dapat selamat.
Dengan anak janganlah lalai,
Supaya boleh naik ke tengah balai.
Dengan kawan hendaklah adil,
Supaya tangannya jadi kapil.
Sebelas
Ini Gurindam pasal yang kesebelas:
Hendaklah berjasa,
Kepada yang sebangsa.
Hendaklah jadi kepala,
Buang perangai yang cela.
Hendaklah memegang amanat,
Buanglah khianat.
Hendak marah,
Dahulukan hujjah.
Hendak dimalui,
Jangan memalui.
Hendak ramai,
Murahkan perangai.
Duabelas
Ini Gurindam pasal yang kedua belas:
Raja mufakat dengan menteri,
Seperti kebun berpagarkan duri.
Betul hati kepada raja,
Tanda jadi sebarang kerja.
Hukum ‘adil atas rakyat,
Tanda raja beroleh ‘inayat.
Kasihkan orang yang berilmu,
Tanda rahmat atas dirimu.
Hormat akan orang yang pandai,
Tanda mengenal kasa dan cindai.
Ingatkan dirinya mati,
Itulah asal berbuat bakti.
Akhirat itu terlalu nyata,
Kepada hati yang tidak buta.
Tamatlah Gurindam yang duabelas pasal yaitu karangan kita Raja Ali Haji pada tahun Hijrah Nabi kita seribu dua ratus enam puluh tiga likur hari bulan Rajab Selasa jam pukul lima, Negeri Riau, Pulau Penyengat.
Keterangan :

Bakhil ; kikir atau pelit
Balai : rumah tempat menanti raja (di antara kediaman raja-raja)
Bachri : hal mengenai lautan (luas)
Berperi : berkata-kata
Cindai : kain sutra yang berbunga-bunga
Damping : dekat, karib, atau akrab
Fi’il : tingkah laku, perbuatan
Hujjah : tanda, bukti, atau alasan
Inayat : pertolongan atau bantuan
Kafill : majikan atau orang yang menanggung kerja
Kasa : kain putih yang halus
Ketor : tempat ludah (ketika makan sirih), peludahan
Ma’rifat : tingkat penyerahan diri kepada Tuhan yang setahap demi setahap sampai pada tingkat keyakinan           yang kuat
Menyalah : melakukan kesalahan
Mudarat : sesuatu yang tidak menguntungkan atau tidak berguna
Pekong (pekung) penyakit kulit yang berbau busuk
Penggawa : kepala pasukan, kepala desa
Perangai : sifat batin manusia yang mempengaruhi segenap pikiran dan perbuatan
Senonoh : perkataan, perbuatan, atau penampilan yang tidak patut (tidak sopan)
Tegah : menghentikan
Teperdaya : tertipu
Termasa : tamasya

Wednesday, May 4, 2016

DISAAT DAKU TUA
karya: http://ceritaterbaik.blogspot.co.id/




Disaat daku tua, bukan lagi diriku yang dulu.
Maklumilah diriku, bersabarlah dalam menghadapiku.

Disaat daku menumpahkan kuah sayuran dibajuku,
Disaat daku tidak lagi mengingat cara mengikatkan tali sepatu.
Ingatlah saat-saat bagaimana daku mengajarimu, membimbimgmu untuk melakukannya.

Disaat saya dengan pikunnya mengulang terus menerus ucapan yang membosankanmu.
Bersabarlah mendengarkanku, jangan memotong ucapanku,
Dimasa kecilmu, Daku harus mengulang dan mengulang terus sebuah cerita yang telah saya ceritakan ribuan kali hingga dirimu terbuai dalam mimpi.

Disaat saya membutuhkanmu untuk memandikanku.
Janganlah menyalahkanku.
Ingatlah dimasa kecilmu, bagaimana daku dengan berbagai cara membujukmu untuk mandi.

Disaat saya kebinggungan menghadapi hal-hal baru dan teknologi modern.
Janganlah menertawaiku.
Renungkanlah bagaimana daku dengan sabarnya menjawab setiap "mengapa" yang engkau ajukan saat itu.

Disaat kedua kakiku terlalu lemah untuk berjalan.
Ulurkanlah tanganmu yang muda dan kuat untuk memapahku.
Bagaikan dimasa kecilmu daku menuntunmu melangkahkan kaki untuk belajar berjalan.

Disaat daku melupakan topik pembicaraan kita.
Berilah sedikit waktu padaku untuk mengingatnya.
Sebenarnya, topik pembicaraan bukanlah hal yang penting bagiku, asalkan engkau berada disisiku untuk mendengarkanku, daku telah bahagia.

Disaat engkau melihat diriku menua, janganlah bersedih.
Maklumilah diriku, dukunglah daku, bagaikan daku terhadapmu disaat engkau mulai belajar tentang kehidupan.

Dulu daku menuntunmu menapaki jalan kehidupan ini, kini temanilah daku hingga akhir jalan hidupkku.
Berilah daku cinta kasih dan kesabaranmu, Daku akan menerimanya dengan senyum penuh syukur, didalam senyumku ini, tertanam kasihku yang tak terhingga padamu.


TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI BLOG KAMI, JANGAN LUPA TINGGALKAN KOMENTAR.

Tuesday, April 26, 2016

Pengaruh Budaya Nusantara Terhadap Sastra

Pengaruh Budaya Nusantara Terhadap Sastra

Oleh: Santi T.

Budaya dan Bahasa
Ketika berbicara mengenai budaya, kita harus mau membuka pikiran untuk menerima banyak hal baru. Budaya bersifat kompleks, luas, dan abstrak. Budaya tidak terbatas pada seni yang sering kali dilihat dalam gedung kesenian atau tempat bersejarah, seperti museum. Tetapi, budaya merupakan suatu pola hidup menyeluruh. Budaya memunyai banyak aspek yang turut menentukan perilaku komunikatif. Beberapa orang bisa mengalami kesulitan ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya lain. Hal ini dikarenakan budaya memunyai keistimewaannya sendiri. Budaya masyarakat satu berbeda dengan budaya masyarakat yang lainnya, sehingga seseorang harus bisa menyesuaikan perbedaan-perbedaannya. Kebudayaan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak.
Ada banyak unsur yang membentuk budaya, termasuk bahasa, adat istiadat, sistem agama dan politik, perkakas, pakaian, dan karya seni. Bahasa merupakan perwujudan budaya yang digunakan manusia untuk saling berkomunikasi, baik melalui tulisan, lisan, ataupun gerakan. Sebagai perwujudan budaya, bahasa dapat berperan dalam dua hal:
  1. Sebagai alat untuk berekspresi, berkomunikasi, mengadakan integrasi, dan adaptasi sosial.
  2. Sebagai alat untuk mengadakan hubungan dalam pergaulan sehari-hari, mewujudkan seni (sastra), mempelajari naskah-naskah kuno, dan mengeksploitasi ilmu pengetahuan dan teknologi.
Pengaruh Budaya Terhadap Sastra
Bahasa tidak hanya memunyai hubungan dengan budaya, tetapi juga sastra. Bahasa memunyai peranan yang penting dalam sastra karena bahasa punya andil besar dalam mewujudkan ide/keinginan penulisnya. Banyak hal yang bisa tertuang dalam sebuah sastra, baik itu puisi, novel, roman, bahkan drama. Setiap penulis karya sastra hidup dalam zaman yang berbeda, dan perbedaan zaman inilah yang turut ambil bagian dalam menentukan warna karya sastra mereka. Oleh karena itu, ada beberapa periode dalam penulisan karya sastra, seperti Balai Pustaka, Pujangga Baru, Angkatan 45, Angkatan 66, dan sebagainya. Setiap periode "mengangkat" latar belakang yang berbeda-beda sesuai zaman dan budaya saat itu.
Sebagai contoh, kesusastraan Indonesia. Kesusastraan Indonesia menjadi potret sosial budaya masyarakat Indonesia. Tidak jarang, kesusastraan Indonesia mencerminkan perjalanan sejarah Indonesia, "kegelisahan" kultural, dan manifestasi pemikiran Bangsa Indonesia. Misalnya, kesusatraan zaman Balai Pustaka (1920 -- 1933). Karya-karya sastra pada zaman itu menunjukkan problem kultural ketika Bangsa Indonesia dihadapkan pada budaya Barat. Karya sastra tersebut memunculkan tokoh-tokoh (fiksi) yang mewakili golongan tua (tradisional) dan golongan muda (modern). Selain itu, ada budaya "lama", seperti masalah adat perkawinan dan kedudukan perempuan yang mendominasi novel Indonesia pada zaman Balai Pustaka. Sekarang ini, novel Indonesia cenderung menyajikan konflik cinta, sains, kekeluargaan, dll..
Bagaimana pendapat Anda mengenai puisi zaman sekarang? Tentu saja ada perbedaan yang sangat kentara, baik dalam topik yang "diangkat" maupun bahasa yang digunakan. Sebagai contoh, kumpulan puisi Mbeling karya Remy Sylado, tahun 2005. Sebagian besar puisi Mbeling yang ia tulis mengangkat kehidupan politik pada saat itu, seperti korupsi, koruptor, individualisme, dll.. Secara penulisan, beberapa puisi karya Remy Sylado hanya terdiri 1 -- 2 kata saja dan disusun dengan tipografi yang unik. Misal, puisi berjudul "Individualisme dalam Kolektivisme". Puisi ini hanya terdiri dari kata "kita" dan "aku". Kedua kata ini disusun dengan pola membentuk persegi panjang, dengan kata "AKU" (kapital) pada titik diagonalnya. Jika dibandingkan dengan puisi pada zaman Muhammad Yamin, tentu mengalami perbedaan. Meskipun mengangkat tema yang sama, misalnya politik, tetapi konten penyajian puisi sangatlah berbeda. Puisi Muhammad Yamin lebih mengangkat sisi perumusan konsep kebangsaan, meskipun saat itu masih dalam lingkup Sumatera. Jelas sangat berbeda dengan puisi Remy Sylado, yang lebih condong menyajikan sisi kehidupan politik sebuah bangsa berkembang dengan kondisi pemerintahan yang kurang baik.
Perbedaan karya sastra setiap periode bukanlah semata-mata karena ide/gagasan dari penulisnya. Perbedaan ini dipengaruhi oleh kondisi sosial, politik, dan budaya yang terjadi pada saat itu. Bahkan, jika kita mau merunut karya sastra dari awal sampai sekarang, dan meneliti lebih dalam mengenai latar belakang ideologi saat itu, kita bisa mendapati bagaimana proses perjalanan Bangsa Indonesia. Meskipun karya sastra di Indonesia bisa dibilang hampir pada posisi "tengah" -- tidak terlalu menonjol dan tidak terpuruk, namun perlu disadari bahwa budaya barat sedikit demi sedikit, dari waktu ke waktu, turut memengaruhi karya sastra Indonesia.
Pernahkah Anda mendengar karya sastra Indonesia modern? Gaya sastra asing (barat) dan pengaruh bentuk menjadi patokan untuk menyebut sastra Indonesia yang modern. Pada kenyataannya, ketika pengarang hidup dalam budayanya, ia mencoba untuk menerima tradisi estetis (gaya barat) dengan budayanya. Penerimaan tradisi estetis tersebut dituangkan dalam karyanya, dijadikan latar/setting pada tulisannya, sekadar memberi warna dalam proses kreatif yang ia lakukan. Akibatnya, sastra lama hanya akan menjadi sebuah artefak. Para peneliti sastra pun menjadi asing dengan tradisi yang dimiliki oleh sejarah panjang sastra di Indonesia, melalui karya-karya sastra yang ada.
Budaya dan sastra memunyai ketergantungan satu sama lain. Sastra sangat dipengaruhi oleh budaya, sehingga segala hal yang terdapat dalam kebudayaan akan tercermin di dalam sastra. Masinambouw mengatakan bahwa sastra (bahasa) dan kebudayaan merupakan dua sistem yang melekat pada manusia. Jika kebudayaan adalah sistem yang mengatur interaksi manusia di dalam masyarakat, bahasa (sastra) adalah suatu sistem yang berfungsi sebagai sarana berlangsungnya suatu interaksi.

Sumber bacaan:
  1. Muhyidin, Asep, M.Pd.. "Artikel-Artikel Tentang Sastra Indonesia". Dalamhttp://sihombing92.blogspot.com/2012/05/artikel-sastra-indonesia.html
  2. Sihombing, Bobby. "Artikel Sastra Indonesia". Dalam http://sihombing92.blogspot.com/2012/05/artikel-sastra-indonesia.html
  3. ________________. "Hubungan Budaya dan Sastra". Dalamhttp://nindy91.wordpress.com/2010/10/28/hubungan-budaya-dan-sastra/

terima kasih telah mengunjungi blog kami, jangan lupa tinggalkan komentar.....